nun
Pendidikan

Dieksploitasi produsen, jangan mau!!!

Dalam tulisan saya beberapa waktu yang lalu, saya pernah menjelaskan bahwa paradigma bisnis dalam pendidikan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari kendati pendidikan itu sendiri bukanlah lembaga bisnis sebagaimana perusahaan (baca, Pendidikan: Bisnis atau Bukan?). Saya menjelaskan bahwa pendidikan itu sendiri merupakan racikan antara idealisme dan bisnis dalam satu tarikan nafas. Itu jika dilihat dari substansi lembaga pendidikan itu sendiri. Namun, bagi para pelaku bisnis itu sendiri, lembaga pendidikan merupakan potensi pasar yang besar.

Bayangkan saja, dalam konteks urban, untuk tingkat SD/MI saja rata-rata minimal murid yang ada di sebuah lembaga pendidikan berada di kisaran 200 sampai 300 orang. Bahkan, jika lembaga pendidikannya maju, berada dikisaran 600 sampai 1000 orang. Belum lagi murid-murid yang berada di tingkat SMP/MTs dan SMA/MA. Jumlah tersebut, tentunya akan sangat fantastis jika dikalikan dengan jumlah sekolah yang ada di suatu daerah.

Sebagai potensi pasar, bisa jadi, cara berhitung para pebisnis jauh lebih luwes. Misalnya, dengan melihat bahwa produk mereka dapat dikomunikasikan minimal kepada satu orang dari keluarga dan satu orang dari teman para murid. Sehingga, jumlahnya bertambah dua kali lipat. Lain dari itu, dapat dilihat juga dari umur para murid yang relatif cukup panjang. Dalam hal ini mereka adalah pembeli masa depan yang akan melanggengkan usaha para pebisnis. Dan, jika dari jumlah yang banyak itu akan ada 30% menjadi pelanggan tetap dan sisanya adalah pelanggan tidak tetap maka hal tersebut merupakan hal yang sangat fantastis. Dalam hal ini, saya ingin mengatakan bahwa angka yang fantastis sama dengan keuntungan yang banyak dan dalam jangka waktu yang panjang.

Terkait dengan angka-angka tersebut, berbagai upaya penetrasi pasar yang dilakukan oleh perusahaan tentunya sangatlah luar biasa. Berbagai kegiatan yang mengatasnamakan pengembangan kreativitas murid atau apapun namanya, diciptakan agar berbagai sekolah mau terlibat dalam kegiatan tersebut. Lain dari itu, para pengelola sekolah diiming-imingi mendapatkan keuntungan finansial dari kegiatan tersebut walaupun sejauh pengamatan saya masih belum sebanding dengan keuntungan yang diperoleh oleh para pebisnis. Dalam hal ini, sekolah tidak dianggap sebagai mitra sejajar para pelaku bisnis karena keuntungan yang diberikan sering kali kepada individu pengelola lembaga pendidikan bukan pada sekolah itu sendiri.

Hal inilah yang sering menggelayuti pikiran saya ketika mengelola sekolah. Guru-guru yang tidak memahami persolan ini secara mendalam biasanya dengan sukarela bersedia menjadi tenaga pemasaran gratis. Murid-murid yang menjadi bimbingannya didorong untuk membeli produk tertentu agar bisa diikutkan dalam sebuah kegiatan tertentu. Tentunya, lagi-lagi hal ini dikerjakan atas nama pengembangan kreativitas atau minat dan bakat murid. Bagi saya hal ini tidak sehat untuk pengembangan lembaga pendidikan di masa yang akan datang.

Terlepas dari itu semua, dari pengalaman saya mengelola madrasah, dalam satu bulan minimal ada 10 orang yang datang menemui saya dari berbagai perusahaan yang memberikan penawaran baik jasa ataupun produk. Perusahaan yang datang mulai dari perusahaan berskala besar yang produknya sering mampir di TV atau perusahaan kecil menengah. Keuntungan yang ditawarkan, lagi-lagi, hanya untuk saya sebagai pemegang kebijakan operasional sekolah. Dan, jika gagal masuk melalui saya, maka mereka berusaha masuk melalui guru.

Pertanyaannya, adakah yang salah dari praktik itu? Menurut hemat saya, semua itu wajar dalam dunia bisnis. Namun, hanya menjadikan sekolah sebagai pangsa pasar, rasa-rasanya kurang memberikan dampak positif bagi sekolah itu sendiri. Lain dari itu, dengan adanya pelaku bisnis, pada dasarnya, sekolah bisa menjadikan mereka sebagai jaringan dan rekanan kerja untuk mencapai visi, misi dan tujuan dari sekolah. Hal inilah yang sering dilupakan. Yaitu, menjadikan para pelaku bisnis sebagai rekanan kerja.

Yang saya lakukan terkait dengan hal tersebut, adalah mengajak para pelaku bisnis untuk sama-sama berinvestasi di dunia pendidikan. Para pelaku bisnis mendapatkan akses kepada pasar dan sekolah mendapatkan keuntungan dari membuka pangsa pasar tersebut. Namun yang terjadi, kebanyakan dari mereka belum berkenan untuk memulai melakukan hal tersebut. Mungkin, dalam perhitungan mereka, cara pandang tersebut hanya akan menjadi beban kerja tambahan sekaligus hanya sedikit memberikan keuntungan. Namun demikian, dari pengalaman saya, ternyata, ada yang berkenan untuk berinvestasi lebih lanjut walaupun hanya dua perusahaan.

Pada sisi inilah saya melihat bahwa sangatlah penting untuk mengajak pelaku bisnis untuk melihat lembaga pendidikan sebagai mitra yang sejajar. Kegiatan-kegiatan yang sifatnya aksidental bisa dinaikkan derajat substansinya menjadi kerja sama jangka menengah atau jangka panjang. Dan, dalam hal ini, masing-masing akan mendapatkan keuntungan yang sama dalam kurun waktu tertentu yang telah disepakati. Mungkin, hal ini, merupakan PR bersama yang mesti dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan yang belum sepenuhnya menjadikan para pelaku bisnis sebagai mitra. Sebab, di berbagai lembaga yang telah saya temui, sudah melakukan hal ini karena memahami betul bahwa kehadiran lembaga pendidikan merupakan pasar yang cukup menjanjikan bagi para pelaku bisnis.

Begitu pengalaman saya…mungkin, ada cara pandang lain dari rekan-rekan semua…

Wallahu A’lam bi-l-shawwab

Related posts

Guru: Profesi Multi Profesi

admin

Mengapa saya suka berbagi tentang budaya sekolah?

admin

Merencanakan keberhasilan sekolah/madrasah?

admin

Leave a Comment