Perspektif budaya sekolah merupakan salah satu yang sering luput dalam obrolan pendidikan. Kompas persoalan dalam dunia pendidikan atau sekolah sering kali diarahkan pada persoalan-persoalan yang tampak di permukaan. Padahal, persoalan sesungguhnya ada di dasarnya, yaitu terkait dengan apa yang dipikirkan, diyakini dan dirasakan oleh orang-orang yang terlibat dalam dunia pendidikan yang mempengaruhi keseluruhan aktivitas sekolah.
Pengalaman saya belajar dan terlibat langsung dalam dunia pendidikan atau di sekolah menggambarkan hal tersebut secara terang benderang. Tentunya, hal tersebut juga terjadi di sejumlah organisasi non-sekolah yang pernah saya ikuti. Kegagalan mengidentifikasi dan menemukan inti masalah atau dasar persoalan yang dihadapi sering kali berakhir pada munculnya kembali persoalan yang sama dan mungkin baru di masa yang akan datang. Kacaunya lagi, setelah persoalan terulang, tidak ada langkah antisipatif agar persoalan tidak lagi terulang. Begitu seterusnya, sehingga berpengaruh pada citra sekolah di mata warga sekolah.
Dalam dunia pendidikan, persoalan budaya jauh lebih kompleks dan tentunya berbeda dengan dunia industri karena output atau produk akhir yang dihasilkannya berbeda satu sama lain. Begitulah yang saya tangkap dari mas menteri pendidikan kita ketika menjelaskan tentang merdeka belajar yang menjadi tagline Kemendikbud hari ini. Dan, persis seperti dugaan saya, merdeka belajar itu ternyata terkait dengan budaya yang berkembang di sekolah. Budaya tersebut, katanya, terkait dengan mindset inovasi dan pembelajaran yang tumbuh di antara warga sekolah bukan orang per orang. Mungkin, cara pandang ini benar adanya, tapi bukankah mindset yang tumbuh di antara warga sekolah justru dihasilkan dari pikiran-pikiran individu yang terkoneksi satu sama lain?
Pada sisi inilah, saya menangkap, bahwa persoalan sesungguhnya dalam mengembangkan budaya sekolah adalah terkait dengan membuka ruang bersama yang memungkinkan terkoneksinya mindset individu dengan mindset bersama atau warga sekolah. Intinya, ruang-ruang yang dapat menajamkan perbedaan cara pandang yang berujung pada dinamika atau konflik harus diminimalisir sealamiah dan sejujur mungkin, tidak mengada-ada. Semua orang butuh didengar dan dapat menyampaikan gagasannya secara aman, nyaman dan terbuka. Nobody is a hero because everyone is a hero.
Untuk mewujudkan hal tersebut tidaklah mudah. Butuh fokus, kesabaran, kerja keras dan ketahanan dalam melakukan hal tersebut. Dan, yang terpenting dari semua itu, adalah mengesampingkan ego pribadi dan fokus pada apa yang hendak dicapai bersama, goals. Fokus terhadap tujuan atau goals setting sering kali dikaburkan dengan persoalan-persoalan keseharian yang relatif banyak dan bertumpuk. Nah, pada sisi inilah, mengapa perspektif budaya sekolah dibutuhkan karena mengajak kita waspada terhadap hal-hal yang dapat mengalihkan pandangan kita dari tujuan yang hendak dicapai.
Nanti sambung lagi ya…nuhun! Wallahu ‘alam
