Dalam sebuah kesempatan bertemu dengan sejumlah kepala madrasah di sebuah sesi pelatihan, saya sempat mendengar keluhan yang diungkapkan salah satu kepala madrasah. Inti keluhan antara lain terkait dengan guru-guru yang tidak kreatif. Terhadap keluhan tersebut, saya langsung bereaksi dan secara serius mencoba menanggapi. Bagi saya agak berat untuk menyatakan bahwa ada guru yang tidak kreatif. Dan, hal tersebut bukanlah sesuatu yang pantas untuk dikeluhkan tetapi dicarikan alternatif solusinya.
Kreatifitas merupakan hal yang tidak dapat dilepaskan dari profesi guru. Betapa tidak, dalam menjalankan perannya sebagai guru, seseorang harus memiliki sejumlah keahlian yang tidak mudah. Dan, mungkin, profesi guru adalah satu-satunya profesi yang mesti menggabungkan berbagai disiplin pengetahuan dalam satu tarikan nafas.
Bayangkan saja, dalam satu waktu, seorang guru terkadang harus menjadi seorang disainer, teknokrat, hakim, konselor, seniman, administrator, sumber pengetahuan, penjaga moral, wasit, detektif, motivator, peneliti, evaluator, inovator, mentor dan lain sebagainya. Maka dari itu, bagi saya tidak pas rasanya jika ada yang mengatakan bahwa guru tidak kreatif. Dan, jikapun ada persoalan, itu hanya terkait dengan bobotnya saja, tidak yang lain.
Saya pikir, hal inilah yang mesti dipahami kebanyakan orang. Ini adalah profesi mulia yang sangat berat. Maka dari itu, dalam kaitannya dengan guru, ada seorang ahli pendidikan yang menyatakan bahwa sangat sulit untuk memahami profesi seseorang ketika pendapatan orang tersebut tergantung pada sesuatu yang tidak dapat mengerti. Padahal, profesi ini sangatlah vital karena akan mereproduksi sebuah budaya dalam berbagai bentuknya—bahasa, nilai, perilaku, imej, aturan dsb.—dan dapat menentukan arah perubahan masyarakat bahkan negara di masa yang akan datang.
Inilah yang terjadi. Dan, hal inilah yang tidak banyak diinsafi banyak orang bahkan oleh lembaga dimana para guru bernaung. Atas dasar itu, maka pada dasarnya penting untuk mencoba melihat berbagai persoalan guru dalam konteks yang lebih manusiawi. Tentunya, hal tersebut, harus diawali dengan cara pandang yang tepat terhadap profesi ini. Ada peran yang melekat dalam guru yang membentuk identitas guru. Lagi-lagi, saya katakan, itu tidaklah mudah! Maka, sedih rasanya jika melihat adanya pernyataan yang mendiskreditkan guru di tengah perannya yang berat. Namun, lebih sedih lagi, jika ada guru yang merasa apa yang dilakukannya tidak bermakna; hanya sekedar memenuhi tuntutan masyarakat agar jelas pekerjaannya.
Dalam konteks inilah, penting rasanya mengajak banyak orang untuk mencoba melihat kembali persoalan guru di dasar mata airnya. Sehingga, segala hal terkait dengan guru menjadi jernih dan dapat menghilangkan dahaga. Hal-hal yang politis yang negatif dan desktruktif tidak dijadikan prioritas. Sebaliknya, hal-hal yang politis dan membangun serta memperkuat profesi guru dijadikan prioritas utama. Namun yang terpenting dari itu semua, adalah menghadirkan kembali guru dalam identitas asalinya. Identitas inilah yang akan menjadi kompas tindakan bermakna. Dan, dari hal inilah, kreativitas apapun yang dikehendaki akan dengan dijawab oleh guru dengan mudah.
