nun
Pendidikan

Merencanakan keberhasilan sekolah/madrasah?

Try to become not a man of success, but try rather to become a man of value

(Albert Einstein)

Kata-kata tersebut saya dapatkan ketika berselancar di media sosial. Entah itu ujaran Einstein atau bukan, saya merasa bahwa kata-kata itu luar biasa menghentak kesadaran saya tentang apa yang seharusnya terjadi dalam diri; berhasil atau bermakna? Mungkin, hal ini juga yang mesti dihadirkan di sanubari orang-orang yang berada di sekolah/madrasah; menjadi lembaga yang berhasil atau bermakna?

Untuk memahami hal tersebut lebih lanjut, saya yakin akan ada perbedaan persepsi apa yang dimaksud dengan berhasil atau bermakna. Terlepas dari itu semua, dan kembali pada judul di atas, apakah hal tersebut dapat direncanakan? Dengan spontan, siapapun akan menjawab, bisa! Terlebih untuk sebuah lembaga pendidikan, praktik perencanaan seperti ‘kutukan’ yang mesti dilakukan. Namun, seberapa besar perencanaan tersebut memberikan dampak itulah yang menarik untuk disoal.

Perencanaan merupakan salah satu tahapan dalam siklus manajemen untuk merumuskan berbagai ihwal seperti tujuan, strategi, program, aktivitas dsb. dan erat kaitannya dengan upaya pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan. Dalam praktiknya, seperti yang pernah saya alami, upaya ini biasanya didukung dengan sejumlah data atau informasi terkait dengan situasi sekolah/madrasah. Persoalannya, dalam praktik perencanaan, sering kali menjadikan masalah sebagai basis telaah. Berbagai metode analisa untuk mendalami masalah dijadikan rujukan dalam perencanaan.

Praktik ini, ternyata, mendapatkan tantangan. Sebab, masalah hanya akan melahirkan masalah lainnya, begitu seterusnya. Terhadap praktik ini, pada dasarnya telah banyak metode yang menyuguhkan hal sebaliknya. Salah satunya, adalah metode Appreciative Inquiry (AI). Metode ini biasanya digunakan untuk pengembangan organisasi (Shuayb et.al, 2009). Metode ini merupakan pengembangan dari penelitian tindakan (action research) yang biasanya lebih fokus untuk memecahkan masalah. Tidak terus terpaku untuk memperbaiki setiap permasalah merupakan inti dari metode ini, tujuannya agar bisa lebih menghargai dan memberikan peluang bagi terciptanya cara pandang dan cara tindak baru yang benar-benar telah teruji dan dapat dilakukan.

Dengan kata lain, metode ini lebih menekankan pada upaya memperkuat aspek-aspek positif yang sudah berjalan dan telah dilakukan melalui penggalian berbagai pengalaman positif warga sekolah/madrasah. Yaitu, dengan cara menceritakan pengalaman terbaik dan memperkuatnya agar bisa memberikan pengaruh positif di masa yang akan datang.

Terkait dengan metode ini, setidaknya ada 10 filosofi yang mesti dipahami: (1) bahwa dalam suatu masyarakat atau organisasi pasti ada sesuatu yang berhasil, tidak semuanya berada dalam kegagalan. Keberhasilan inilah yang kemudian dijadikan fokus; (2) apa yang difokuskan merupakan realitas kita; (3) realitas tidak berdiri sendiri, ia berhadapan dengan sejumlah realitas lainnya (multiple realities); (4) pertanyaan tentang kondisi suatu organisasi dalam beberapa hal berpengaruh pada bagaimana organisasi tersebut berjalan. Terlalu sering berbicara masalah, malah akan menjadikan organisasi tersebut bermasalah; (5) orang akan lebih percaya diri dan nyaman untuk menjelaskan tentang masa depan berdasarkan pengalaman yang dimiliki untuk masa depan. Dan, jika hanya berbicara masa lalu, maka apapun yang terbaik hanya akan dirasakan di masa lalu, bukan masa depan; (6)  metode ini penting untuk menghargai perbedaan; dan (7) bahasa yang kita gunakan menciptakan realitas kita. (Hammond, 1996)

Dalam aplikasinya, metode ini pada dasarnya meliputi empat daur langkah: (1) Discovering: mencari tahu pengalaman terbaik dan paling positif  dalam organisasi; (2) Dreaming: berpikir kreatif tentang masa depan; (3) Designing: merancang rencana untuk masa depan yang mencerminkan pandangan praktik terbaik; (4) Delivering:   menggerakkan energi yang ada menuju rencana tindakan (action plan), dan berlatih untuk mewujudkan apa yang ingin dicapai.

Pengalaman saya, metode ini dapat mengurai benang kusut perencanaan yang biasa dilakukan di sekolah/madrasah seperti dalam membuat perencanaan strategis atau perencanaan tahunan. Setidaknya, praktik-praktik terbaik yang pernah dilakukan oleh guru dan staf jauh lebih tergali. Hal inilah, yang menurut saya membuat peserta forum perencanaan jauh lebih nyaman. Lain dari itu, saya merasa bahwa sejumlah masalah yang dihadapi justru terjawab dengan sendirinya. Sebab, secara sadar atau tidak, peserta forum memberikan jawaban positif terhadap permasalahan justru dari pengalaman terbaik yang mereka lakukan.

Tentunya, ini adalah pengalaman saya, mungkin pengalaman sahabat-sahabat berbeda dengan apa yang saya alami karena adanya situasi, kondisi serta kebutuhan yang berbeda. Namun yang terpenting dari semua itu, apapun bentuk pengalamannya, pertanyaan untuk mencapai keberhasilan atau kebermaknaan masih relevan untuk didiskusikan lebih lanjut…

Related posts

Membangun Budaya Sekolah Positif

admin

Perubahan positif, dari mana dimulai?

admin

Guru: Profesi Multi Profesi

admin

Leave a Comment