nun
Opini Pendidikan

Membangun Budaya Sekolah Positif

Pengalaman isteriku tercinta yang kebetulan seorang guru madrasah membuat mata saya sedikit melek tentang sejumlah dinamika yang terjadi di madrasah. Terlebih, beberapa bulan ke belakang, saya sendiri aktif mengelola sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) swasta (sekolah setara SD) yang berada di Kota Depok. Sejumlah persoalan madrasah dihadirkan dalam obrolan santai di sela-sela kesibukan mengerjakan pekerjaan rumah. Mulai dari persoalan mutu, pengelolaan, pengembangan SDM, sarana dan pra-sarana dan lain sebagainya.

Intinya, banyak persoalan yang dihadapi madrasah sehingga madrasah sering dianggap sebagai lembaga pendidikan yang sulit untuk maju. Bahkan, stigma bahwa madrasah dianggap sebagai pendidikan untuk golongan kelas tiga seolah-olah terus dijadikan menu utama untuk mendiskreditkan lembaga ini. Para heater-nya pun tidak kalah banyak; terus menerus melakukan kritik tetapi bukan untuk memajukannya. Mereka malah mencemooh tanpa mau menggerakkan kakinya untuk berbuat tepat di pusaran persoalan yang dihadapi.

Obrolan-obrolan tersebut, walaupun santai, tetap membayang-bayangi pikiran saya. Batin saya bergejolak. Resep apa yang bisa saya bagi agar madrasah dapat maju bahkan melampaui apa yang selama ini dipikirkan banyak orang. Terhadap persoalan ini, saya mencoba lebih keras untuk belajar. Sehingga, sampai pada satu momentum dimana saya merasa mendapatkan jawaban atas persoalan yang dihadapi. Walaupun, setelah dipraktikkan di madrasah yang saya kelola ternyata jawaban tersebut menghadapi sejumlah ujian penting.

Jawaban yang saya maksudkan terangkum dalam apa yang disebut dengan “Budaya Sekolah”. Konsep tentang budaya sekolah cukup membuat saya tercengang sekaligus gelisah. Salah satu hal yang disoal oleh konsep ini adalah bagaimana memahami visi, misi dan tujuan beserta konsekuensi yang melekat dalam seluruh tatanan pengelolaan sekolah. Persoalan inilah yang memang terasa sulit untuk dipastikan keutuhannya dalam sebuah lembaga pendidikan. Terlebih, visi, misi dan tujuan seringkali dianggap sebagai persoalan administratif dan jargon semata. Sesuatu yang dianggap penting dan dapat memandu tindakan, tetapi luput dari perhatian.

Persoalan yang muncul kemudian adalah bagaimana menjadikan visi, misi dan tujuan menjadi pusat tindakan para pelaku pendidikan sehingga terbangun sebuah sistem nilai yang disepakati bersama dan dapat menggairahkan proses pendidikan. Sehingga, setiap orang yang terlibat dalam dunia pendidikan merasa menjadi bagian penting yang menjalankan sejumlah aktivitas bermakna, bukan rutinitas belaka.

Terhadap persoalan tersebut, saya mencoba melakukan sejumlah eksperimen di MI yang saya kelola dengan menjadikan partisipasi sebagai alat untuk membangun sebuah sistem nilai yang menjadi sentrum tindakan. Walhasil, terjadi sejumlah perubahan yang cukup signifikan kendati belum mencapai apa yang diharapkan oleh ketua Yayasan. Perjalanan saya mengelola MI yang baru seumur jagung tersebut setidaknya memberikan keyakinan terhadap diri saya bahwa kemajuan madrasah bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan namun membutuhkan proses yang relatif panjang. Terlebih, madrasah yang kebanyakan swasta belum mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah dalam hal pengelolaannya.

Dari pengalaman tersebut, saya percaya bahwa dengan mempelajari bagaimana membangun budaya sekolah positif maka akan terjadi perubahan signifikan di madrasah atau lembaga pendidikan lainnya. Sebab, pada gilirannya, budaya sekolah-lah yang membedakan antara sebuah lembaga pendidikan dengan lembaga pendidikan lainnya. Bahkan, saya mendapatkan temuan, ada sebuah madrasah dengan fasilitas yang kurang memadai tetapi mampu melahirkan sejumlah alumni yang hebat. Dan, kata kunci yang dikembangkan oleh madrasah tersebut adalah budaya sekolah.

Terkait dengan hal tersebut, saya telah merumuskan sejumlah kegiatan yang dirangkum dalam program membangun budaya sekolah positif. Inisiatif ini, diharapkan dapat membuka ruang berbagi yang lebih luas kepada pelaku pendidikan yang menghendaki perubahan. Info lebih lanjut dapat hubungi saya…

Related posts

Pendidikan: Bisnis atau Bukan?

admin

Situasi VUCA, apa yang harus dilakukan lembaga pendidikan?

admin

Madrasahku: Amin!

admin

Leave a Comment