Jika kita bertanya tentang kualitas sekolah/madrasah, mungkin yang terbayang adalah bagaimana sekolah/madrasah tampil dalam bentuk terbaiknya sesuai dengan yang kita harapkan. Persoalannya, ketika kita ditanya upaya apa yang dapat dilakukan agar sekolah memiliki kualitas? Jawaban dari pertanyaan tersebut, seringkali menguras tenaga, pikiran dan perasaan kita. Dan, mungkin, sejumlah pertanyaan atau bahkan ide berlompatan dari benak kita seolah-olah ingin segera ditangkap.
Terhadap pertanyaan tersebut, pada dasarnya, sejumlah ahli di bidang pendidikan telah membuat banyak resep yang siap untuk dibagikan. Pemikiran para ahli tersebut, dipelajari dengan seksama di kampus-kampus mulai dari jenjang S1 sampai S3. Namun, pada kenyataannya, masih banyak sekolah/madrasah yang belum bisa mewujudkan mimpi menjadi sekolah/madrasah berkualitas. Bahkan, di madrasah yang saya kelola sekalipun dengan beberapa tenaga pengajar yang sudah memiliki gelar S2 di bidang pendidikan, merasa kesulitan untuk mewujudkannya.
Pertanyaan yang sering dilontarkan mereka, bagaimana memulainya dan memulai dari mana. Padahal, dengan pengalaman mengajar yang mereka miliki, mereka sadar betul apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekolah/madrasah. Dan, mungkin, mengetahui resep apa saja yang dapat dijalankan untuk mencapai sekolah/madrasah yang berkualitas.
Setelah beberapa saat berjibaku dalam pengelolaan madrasah dan mencoba memahami dinamika madrasah, saya mendapatkan pemahaman bahwa kesulitan yang dihadapi ternyata terletak pada kepemimpinan (lihat. tentang kepemimpinan). Dalam hal ini, banyak orang memiliki pengetahuan tetapi tidak dibarengi dengan sikap dan perilaku yang sesuai dengan pengetahuan tersebut. Namun demikian, penting juga untuk melihat persoalan yang cukup mendasar mengapa hal tersebut terjadi, yaitu bahwa pengetahuan tidak pernah berdiri sendiri, ia berelasi dengan aturan main/kebijakan yang beredar pada tingkat implementasi.
Pada poin ini, saya ingin mengatakan, bahwa menyediakan aturan main yang baik itu sama pentingnya dengan pengetahuan itu sendiri. Dapat dikatakan, bahwa untuk mencapai kualitas sekolah/madrasah perlu melakukan proses perubahan kultur yang ada. Dan, hal tersebut, dilakukan secara sadar, terencana, melibatkan seluruh pelaku pendidikan dan selalu mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi murid. Jika hal tersebut tidak dijadikan landasan, maka pengetahuan apapun yang dimiliki tidak akan memberikan pengaruh apapun untuk sekolah/madrasah. Lebih dari itu, hanya akan membebani sekolah/madrasah.
Terkait dengan kualitas sekolah/madrasah, pada dasarnya, kebijakan pendidikan di Indonesia telah menetapkan sejumlah standar yang dapat dijadikan rujukan. Namun demikian, dalam praktiknya, standar-standar tersebut sering kali dipahami sebagai bentuk administrasi semata. Dalam banyak kasus, sekolah/madrasah tidak memahami dengan pasti mengapa standar-standar itu mesti ada. Yang jelas, asal lulus dalam program akreditasi sekolah/madrasah, terlebih mendapatkan predikat A, maka pengelola berhenti untuk mempertajam atau bahkan melakukan pengembangan lebih lanjut. Apalagi untuk melakukan evaluasi, apakah predikat tersebut sesuai atau tidak untuk sekolah/madrasah.
Terlepas dari itu semua, kenyataan bahwa kualitas sekolah/madrasah sangat sulit untuk diwujudkan justru mendapatkan angin segar ketika semua pihak mencoba menemukan kembali apa yang menjadi persoalan sekaligus merumuskan solusinya. Proses ini, tentunya bukanlah pekerjaan magic, butuh waktu yang relatif panjang dan kesadaran penuh bahwa hal tersebut dibutuhkan. Terlebih, dengan selalu berkembangnya sekolah/madrasah sehingga persaingan tidak dapat dielakkan. Menjawab persaingan merupakan salah satu kata kunci yang dapat dikembangkan selain pertimbangan moral, profesional, dan akuntabilitas.
Untuk alasan tersebut, dibutuhkan proses rekulturisasi atau merubah serta merumuskan kembali kultur apa yang sesuai dengan kebutuhan sekolah/madrasah (lihat. Membangun Budaya Sekolah Positif). Sehingga, pertanyaan tentang apa itu kualitas, apa syaratnya, bagaimana melakukannya, apa alat ukurnya dapat dijawab dengan baik. Terlebih jika mau merujuk pada sejumlah konsep seperti Total Quality Management atau lainnya yang sesuai dengan kebutuhan.
