nun
Opini

Tentang Kepemimpinan

“Leadership is a choice not a position”(Covey, 2004)

Di salah satu sekolah yang terletak di Jakarta Selatan, saya pernah diundang untuk mengisi sesi tentang kepemipinan. Peserta kegiatan tersebut adalah murid-murid kelas XI dan XII. Sebelum saya menyanggupi undangan, seperti biasa, saya akan mengajukan sejumlah pertanyaan. Salah satu yang saya tanyakan adalah apa yang hendak dicapai dari adanya sesi tersebut? Guru yang waktu itu menghubungi saya lewat telfon menjawab, “ya, agar anak-anak mampu memimpin teman-temannya yang lain!” Terhadap jawaban tersebut, saya agak mengernyitkan dahi, mencoba memahami apa maksud dari jawaban tersebut.

Jawaban yang hampir sama juga yang selalu saya dapatkan ketika diundang untuk mengisi acara pelatihan kepemimpinan di sekolah atau di tempat lainnya. Padahal apa yang saya pahami tentang kepemimpinan bukan saja terkait bagaimana seseorang memimpin yang lain atau kepemimpinan yang berarti jabatan. Bisa dibayangkan, bagaimana jadinya jika semua orang yang mengikuti pelatihan kepemimpinan tiba-tiba meminta jatah untuk memegang satu jabatan tertentu, padahal posisi untuk menjadi pejabat di sebuah lembaga tidak pernah sebanyak jumlah peserta pelatihan!

Dulu ketika masih nyantri, saya diajarkan bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban, kelak. Dari gambaran tersebut saya percaya bahwa kepemimpinan lebih banyak terkait dengan diri dan transformasinya dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, jika ada sejumlah syarat untuk menjadi pemimpin atau pejabat yang baik dan sukses, maka hal tersebut juga berlaku bagi semua orang tidak terkecuali. Dan, mungkin, karena alasan inilah  kepemimpinan adalah pilihan, bukan posisi. Persis seperti yang banyak orang katakan, menjadi dewasa adalah pilihan sebab menjadi tua itu pasti.

Terkait dengan kepemimpinan, banyak ahli yang mengatakan bahwa hal tersebut terkait dengan bagaimana seseorang membangun diri secara terus menerus. Saya setuju. Dan, itulah yang semestinya terus ditanamkan dalam diri seseorang. Jika mengikuti kaidah Stephen R. Covey, maka ada 7 kebiasaan yang mesti ditanamkan agar seseorang dapat membangun dirinya. Tujuannya, agar menjadi manusia efektif dalam mencapai tujuan tetapi selaras dengan karakter positif manusia. Tujuh kebiasaan tersebut dirumuskan Covey di dalam dunia pendidikan dengan “The Leader in Me” yang meliputi: (1) proaktif; (2) memulai dengan tujuan; (3) dahulukan yang utama; (4) berpikir menang-menang; (5) berusaha memahami sebelum dipahami; (6) sinergi; (7) asah gergaji.

Persoalannya, menanamkan sebuah kebiasaan positif bukanlah hal mudah. Ada banyak gangguan yang akan dihadapi. Dalam konteks institusi pendidikan, dibutuhkan komitmen semua pihak sehingga hal ini dapat terwujud. Sekolah yang berharap murid-muridnya memiliki karakter yang baik harus berani memastikan bahwa pendidik, tenaga kependidikan dan orang tua memiliki karakter yang diharapkan. Dan, hal tersebut, dijalankan secara terus menerus dengan melampaui semua tantangan yang ada. Ini berat. Tetapi, dari hal itulah pembelajaran kepemimpinan akan lebih dapat diterima oleh murid.

Terkait dengan karakter positif yang diharapkan oleh lembaga pendidikan, hemat saya hal tersebut biasanya ditemukan seiring dengan berjalannya proses pendidikan itu sendiri. Ia bukanlah sesuatu yang secara tiba-tiba dapat dicangkok ke dalam benak, sebab lembaga pendidikan memiliki pengalaman yang unik dan berbeda satu sama lain dalam membentuk identitas kelembagaannya. Kendati karakter positif itu sendiri, konon, bersifat universal. Dan, untuk alasan itu, saya bersedia berbagi…

Related posts

Membangun Budaya Sekolah Positif

admin

3 hal penting memulai proses pembelajaran abad 21

admin

Belajar sejarah , lagi!

admin

Leave a Comment