Sore itu hujan turun lebat, saya yang sedang berboncengan motor dengan isteri terpaksa mencari tempat berteduh. Tempat berteduh yang saya dan isteri temui ternyata adalah sebuah madrasah ibtidaiyah. Entah angin dari mana, Isteri saya membuka pertanyaan yang cukup menarik, “Apa sih hebatnya madrasah?” Mendengar pertanyaan ini, saya mulai mengernyitkan dahi, prosesor di kepala bekerja keras, mulai mengumpulkan data dari hardisk otakkku yang lumayan lemot.
Setelah sekitar 5 menit terdiam, “ahhaa, ini dia!”: komentar pertama saya, madrasah hebat bila dilihat dari sejarah kelahirannya. Dengan berapi-api saya mulai menjelaskan hal itu. Madrasah itu muara dari tiga peradaban besar dunia: barat, islam dan indonesia. Pada awal berdirinya, madrasah lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonial Belanda tapi dengan cara mengadopsi model pendidikan yang dikembangkan Belanda melalui politik etisnya. Tapi, tidak saja itu, kataku, madrasah juga hadir karena adanya kesadaran dari para intelektual Islam Indonesia yang berguru di Haramain. Di sana, pendidikan Islam sudah mulai menggunakan sistem pendidikan yang modern lengkap dengan kurikulum dan metode pembelajarannya yang maju.
Lain dari itu, kelahiran madrasah juga dibidani oleh orang-orang yang telah malang melintang di dunia kepesantrenan. Pesantren adalah model pendidikan yang dikenal orang Indonesia jauh sebelum Islam datang. Awalnya, pesantren hadir dari tradisi keagamaan Hindu-Budha. Setelah Islam datang, tradisi pesantren itu tidak lantas dibombardir oleh para penda’i awal Islam. Tapi, terus dilestarikan dengan merubah sistem nilai yang lebih bernuansa Islam. Jadi, setahu saya, awalnya tidak ada lembaga pendidikan di Indonesia ini yang punya sejarah seperti itu. “Kerenkan?”, kataku.
“Ada lagi, yah?”, tanya isteriku. “Ada!”, jawabku spontan. Yaitu, kemampuan madrasah untuk mengadaptasi sejumlah perosoalan struktural. “Madrasah itu luwes kataku.” Untuk penjelasan yang satu ini, sekali lagi prosesor di otak bekarja keras. Pada awal berdirinya, di jaman kolonial, madrasah selalu dicuragai sebagai tempat menghasilkan pemberontak. Mungkin, penjajah Belanda takut kalau ada orang Islam yang pintar. Ketakutan itu diperlihatkan penjajah Belanda dengan menetapkan aturan-aturan administratif sekolah. Sekolah-sekolah Islam, seperti madrasah dan pesantren yang tidak memenuhi standar administrasi tersebut bakal dianggap sekolah ‘liar’. Dan, konsekwensinya harus ‘dibunuh’.
Hebatnya, walaupun banyak madrasah atau pesantren yang ‘dibunuh’, lembaga pendidikan Islam tersebut lahir kembali. Artinya, enggak ada yang benar-benar bisa membunuh lembaga ini. Apalagi madrasah dikenal dengan lembaga pendidikan yang dananya didapatkan dari swadaya masyarakat. Swadaya masyarakat inilah yang menjadikan madrasah itu kuat. Lain dari itu, setelah kemerdekaan, juga lembaga ini tetap masih mengundang kontroversi. Sebab, dengan sukarela para founding father negara ini malah lebih mensibukkan diri membuat sekolah-sekolah sekuler ‘ala Belanda ketimbang memperhatikan madrasah atau pesantren yang kontribusinya terhadap bangsa sudah tidak diragukan lagi. Madrasah atau pesantren masih mengalami diskriminasi.
Hal itu terjadi sampai sekitar akhir tahun 80’an, setelah lahirnya UU Sisdiknas yang masih terasa bau diskriminasinya. Sebab, waktu itu madrasah masih dianggap sekolah umum yang bercirikan Islam. UU itu direvisi tahun 2003, kali ini madrasah dianggap setara dengan sekolah umum lainnya. Keluwesan dan kesabaran madrasah inilah yang mesti diacungi jempol. Bayangkan, dengan sejarahnya yang bau diskriminasi, madrasah tetap bertahan dan terus merumuskan bentuknya. Bahkan, akhir-akhir ini secara statistik jumlah madrasah terus berkembang pesat. Dan, anehnya, yang dulunya madrasah merupakan fenomena rural (kampung) sekarang berubah menjadi fenomena Urban (kota). Dengan kata lain, pertumbuhan madrasah yang pesat itu justru di kota bukan di desa.
Mendengar penjelasan ini, isteriku hanya mengangguk-anggukan kepala. Saya pikir dia terpuaskan dengan penjelasan saya, ternyata tidak. “Klo emang madrasah itu punya sejarah panjang, kenapa sering dianggap sebagai sekolah kelas dua?” mmm, agak ruwet menjawab pertanyaan itu. Tapi, dengan pe-de saya katakan, diskriminasi madrasah itulah penyebabnya. Diskriminasi itu tidak saja dalam hal pengakuan yang berujung minimnya bantuan dari pemerintah. Lebih dari itu, diarahkan pada cara pandang terhadap madrasah itu sendiri. Apalagi kebanyakan madrasah hadir di kampung-kampung dengan mudah orang bisa mengatakan bahwa madrasah “kampungan” dan tidak punya prospek yang jelas. Mungkin, itu sebagai salah satu cara, agar orang Islam sendiri alergi dengan yang namanya madrasah.
“Lihat saja, madrasah tempat kita berteduh ini! adakah yang kurang?”, kataku kepada isteri. Ruang kelasnya, tidak berbeda dengan kelas sekolah lainnya, bersih dan tertib. Di sebagian tembok madrasah terpampang kaligrafi arab yang menghembuskan nafas Islam. “Jangan-jangan itu cuma di sini, yah? Yang lain gimana?”, Isteriku menimpali. Jawabku, “Madrasah yang lain, sebenarnya hampir sama dengan sekolah umum lainnya, Ada yang maju, ada juga yang ketinggalan.”
* * *
Percakapan di teras madrasah itu, cukup berkesan buat saya. Sebagai orang yang dibesarkan di madrasah, rasa-rasanya mesti ada perenungan mendalam dan tentunya tindakan nyata untuk mulai memperbaiki madrasah. Sebab, madrasah itu adalah wajah pendidikan Islam Indonesia. Penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam mesti menyadari hal ini. Sebab, mau tida mau, sadar ataupun tidak, wajah asli Indonesia adalah wajah Islam walaupun negara ini tidak menganut ajaran Islam sebagai sistem utama pemerintahannya. Jika umat Islam terlihat buruk, maka buruklah wajah Indonesia.
Saya melihat, kalau orang tua di jaman sekarang sudah mulai merasakan gerahnya kehidupan kita. Setiap waktu kita diteror dengan berita-berita kekerasan, keculasan, penipuan, kekerasan dan korupsi. Mungkin, ini salah satu efek negatif dari kebijakan pendidikan kita yang dari jauh hari, terus ‘ngotak-ngatik’ agama yang dianggap menghambat. Diskriminasi dan pengebirian agama inilah yang menyebabkan kita kehilangan malu. Urat malu kita putus karena terpaan kebutuhan sehari-hari yang tidak jauh dari citra dan citra; keberhasilan ditunjukkan dengan seberapa banyak uang dikantong dan seberapa keren tongkrongan. Ini menipu! Dan, ujung-ujungnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan. Mengapa keberhasilan tidak dikembangkan dengan sejauh mana seseorang berbuat baik kepada sesama?
Terlepas dari itu, Saya yakin, madrasah akan menemukan jalan terbaiknya. Hadir sebagai alternatif bentuk pendidikan masa depan. Karena, madrasah tidak saja menampilkan wajah Islam, tetapi juga menampilkan wajah modernis Barat dan tradisi Indonesia secara bersamaan. Jikapun banyak orang yang belum menginsafi hal itu, mungkin pada saatnya orang-orang akan berbondong-bondong masuk madrasah. Betapa tidak, di tengah arus globalisasi seperti sekarang ini, nilai-nilai spiritualitas hilang entah kemana; Korupsi dan kekerasan menjadi budaya baru. Sekolah-sekolah sekuler akan menemukan kekeringan spiritualitas dan madrasah menghadirkannya. Sekolah-sekolah sekuler akan terjerat dalam budaya modernitasnya, dan madrasah menampilkannya dalam bingkai tradisi Indonesia. Jika pun belum hari ini, suatu saat insya Allah…
