Entah alam yang sudah tidak bersahabat atau kitalah yang bebal sehingga di negeri yang serba berkah ini begitu banyak korban ketika alam menggeliat. Entahlah! Mungkin, ini harus menjadi renungan kita bersama. Perenungan yang mendalam tentunya. Sebab, sering kali tidak ada perubahan berarti kendati geliat alam terjadi berulang-ulang.
Kalau merujuk pada para ahli di bidang ini, momen bencana merupakan momen dimana ketimpangan struktural, ketidakadilan sosial, dan berbagai persoalan sosial lainnya muncul ke permukaan. Mungkin hal ini benar adanya. Tapi, jika merujuk pada kitab suci Al-Quran, saya menemukan bahwa persoalannya jauh lebih mendasar karena berkaitan dengan manusia itu sendiri secara substansial. Manusia, berdasarkan kitab suci al-Quran, kendati sering dipuji karena memiliki kemampuan berpikir, ia juga sering dihujat karena sifat kikir dan keras kepalanya. Mungkin inilah yang menjadi persoalan utamanya. Sehingga, apapun yang terjadi sering dihadapkan pada batu cadas sifat ini.
Konon, sifat kikir inilah yang menjadikan manusia lebih mementingkan diri sendiri. Dan, sifat keras kepala, menjadikannya bebal dan tidak mau menerima kebenaran. Untuk persoalan yang satu ini, siapa saja bisa memperdebatkannya secara lebih leluasa. Namun, saya sendiri lebih cenderung mengamini hal ini. Sebab, hal inilah yang menjadi penghambat pengetahuan. Saya masih menganggap bahwa persoalan pengetahuan terhadap apapun termasuk bencana memiliki pengeruh yang luar biasa besar dalam kehidupan manusia. Manusia yang tidak mau belajar, maka akan terjebak dalam kesahalahan yang sama. Dan, hanya bergerak berdasarkan naluri saja, tanpa pengetahuan. Ini berbahaya namun sepertinya masih tetap dipertahankan.
Dalam diskusi tentang bencana, kita dapat temukan adanya kesadaran untuk tidak menyalahkan korban (blaming victim). Mungkin, intinya, mencoba menarik persoalan bencana tidak pada kelompok manusia tertentu. Menurut saya, ini keren! Karena, kompas persoalan tidak saja ditujukan pada satu kelompok manusia saja melainkan pada sejumlah persoalan lainnya namun tetap mengarah pada manusia. Mungkin, cara pandang ini sudah menjadi kesepakatan bersama para pelaku atau pemerhati kebencanaan. Persoalannya, kemudian, bisakah kita tetap berpegang pada hal ini?
Untuk menjawab yang satu ini, mungkin, agak sedikit sulit. Sebab, cara pandang ini berimplikasi pada bagaimana sesorang tidak merasa menjadi bagian terpenting dalam upaya meminimalisir dampak bencana. Dengan kata lain, tidak ada ego keahlian, profesi atau kekuasaan. Tidak ada lagi ruang untuk merasa paling berjasa. Sehingga, apa yang kemudian dikenal dengan paradigma holistik dan multidisipliner dalam penanganan bencana mesti menjadi lem perekat tindakan, dilakukan dengan sadar, berdasarkan pengetahuan dan tidak menjadi ajang cari muka; untuk mencari dukungan politik atau apalah namanya.
Alam terkadang menjadi bencana bagi manusia, tetapi manusialah yang pada dasarnya merupakan sumber dari bencana itu sendiri, begitu kata Al-Quran. So, mulailah untuk tidak menjadi bencana! Mulai dari memperbaiki diri, keluarga, masyarakat sekitar dan seterusnya. Mulailah melakukan hal kecil yang mungkin dapat dilakukan, sebab sesuatu menjadi besar karena ada yang kecil.
* * *
Sekolah/madrasah adalah rumah pengetahuan, kesadaran bencana dan sikap kesiapsiagaan harus tumbuh dari lembaga ini…lembaga ini adalah lembaga masa depan, di mana kita bisa titipkan pesan-pesan kebaikan untuk generasi masa depan.
