Di tengah kesibukan melakukan pekerjaan rutin di rumah, saya diminta isteri untuk membacakan buku Sejarah Umat Islam yang ditulis oleh Prof.Dr. Hamka kepada anak-anak. Karya tersebut luar biasa! Saya menikmati jamuan menu di dalamnya seperti menikmati jamuan makan malam ketika berkunjung ke rumah sanak famili ataupun sahabat-sahabat sepermainan. Hangat dan kaya dengan detail sajian, serasa masuk kembali ke dalam peristiwa-peristiwa sejarah di masa lampau.
Karena cara membaca saya yang ngacak, jarang membaca buku dari halaman awal dan hanya membaca sesuatu yang memang ingin saya ketahui, saya memutuskan untuk memulainya dengan membaca Daulah Utsmaniyah, kerajaan Turki Utsmani, sebuah kerajaan adikuasa yang muncul ketika sendi-sendi peradaban umat Islam luluh lantah akibat serangan bangsa Mongol. Dalam perjalanannya, kerajaan ini menjadi kerajaan yang sangat kuat secara politik, ekonomi dan militer sehingga pengaruh dan kekuasaan kerajaan ini begitu luas dan berada di tiga benua—Eropa, Afrika dan Asia. Dan, juga menjadi salah satu kerajaan Islam yang berumur cukup panjang. Luar biasa!
Lembar demi lembar berlalu, sampai anak-anak tertidur—bosan kali ya?—namun, pembacaan saya tetap berlanjut. Pada lembar-lembar lanjutannya inilah saya menemukan hal-hal yang menarik sebagai bahan renungan, terlebih terkait dengan awal mula keruntuhan kerajaan ini. Pertama, terkait dengan kepemimpinan. Bagaimanapun juga, kepemimpinan merupakan hal fundamental dalam proses pengelolaan kelembagaan dalam berbagai skala dan bentuknya. Dalam lembar-lembar sejarah tersebut, diceritakan bahwa pada awal mula keruntuhan kerajaan ini, lahir pemimpin-pemimpin yang tidak memiliki kecakapan dalam mengelola kerajaan. Salah satu yang saya cermati adalah ketidakmampuan pemimpin menangkap semangat jaman, perubahan dan dinamikanya.
Jaman terus berubah dengan sejumlah dinamikanya, namun kelemahan dalam melihat perubahan jaman inilah yang di kemudian hari menjadi petaka. Pada masa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat di Eropa; jalur-jalur perdagangan dan ekonomi baru dibuka; sehingga mampu merubah cara pandang masyarakat Eropa dalam upaya mempertahankan dan memperkuat pemenuhan kebutuhan hidup, termasuk politik dan militer yang selama ini menjadi andalan kerajaan ini.
Hal inilah yang saya rasa sedang terjadi kembali. Sejarah terus menunjukkan tajinya, bahkan di dunia yang sangat super modern seperti sekarang ini! Padahal, sejarah terus mengingatkan agar kita mau mengambil pelajaran darinya. Mungkin kita sering mendengar cerita tentang perusahaan-perusahaan pionir raksasa dalam berbagai bidang yang akhirnya tutup buku karena ketidakmampuan pemimpin menangkap arah perubahan dan dinamika sejarah. Cerita-cerita ini terus menerus didendangkan oleh pada ahli dalam berbagai tulisan atau seminar. Namun persoalannya, sering kali kembali kepada diri kita sendiri yang terkadang terlena dengan keberhasilan masa lalu tanpa mau mengambil pelajaran lebih lanjut dan mendalam terkait kekurangan dan kelebihannya.
Keberhasilan masa lalu dijadikan ‘senjata’ untuk melawan semua ide dan pikiran baru yang datang dari orang lain. Dalam hal ini, pemimpin terjebak dalam romantisme dan menganggap pikirannya telah purna. Padahal, jarum sejarah terus berdetak untuk menciptakan momentum keseimbangan baru walaupun akhirnya akan berhadapan dengan suatu masa dimana keseimbangan tersebut ternyata rapuh. Mungkin, inilah yang terjadi pada para penerus sultan-sultan yang telah berhasil memahat kegemilangan dalam monumen sejarah kerajaan ini.
Kedua, terkait dengan aspek pendidikan atau penguatan sumber daya manusia. Lembar-lembar catatan sejarah menceritakan juga bahwa ketika kerjaan ini masih menggunakan pola lamanya yang berkutat pada politik dan militer, di belahan dunia lain, khususnya Eropa, sedang kasmaran dengan ilmu pengetahuan dan teknologi; lembaga-lembaga pendidikan diperkuat; dan, hal-hal yang menjadi penghambat berkembangnya pengetahuan dan teknologi diberangus dalam kehidupan masyarakat. Dampaknya, perubahan cara pandang masyarakat Eropa terhadap ekonomi, sosial, budaya politik dan militer berubah drastis. Sedangkan di kerjaan ini, lembaga pendidikan masih menggunakan kurikulum lampau yang hanya fokus pada pembelajaran agama. Kerajaan ini lupa, bahwa mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu tuntunan dan tuntutan agama.
Akhirnya, politik dan militer yang menjadi andalan utama kerajaan ini tidak lagi dapat dijadikan sandaran untuk mempertahankan pengaruhnya di berbagai belahan dunia. Kekalahan demi kekalahan baik dari segi ekonomi, politik dan militer terus menerus menghantui sampai akhirnya dilakukan reformasi di kerajaan ini. Namun, apalah daya, reformasi yang dilakukan justru malah memperkeruh keadaan. Harapan dapat mengejar ketertinggalan ilmu pengetahuan dan teknologi ‘ala Eropa, justru membuat pengaruh Eropa masuk ke dalam jantung pertahanan terakhir kerajaan. Sehingga, kerajaan ini dapat distir oleh mereka. Jadi, bukannya menjadi kerajaan dengan wajah modern yang tampak hebat di kejauhan, tetapi menjadi kerajaan yang tunduk pada pengaruh Eropa dengan berbagai upaya perlawanan seadanya.
Lagi-lagi sejarah berulang. Di era yang sangat super modern seperti saat ini, banyak perusahaan-perusahaan yang senang melihat kehebatan perusahaan lain, kemudian berguru kepadanya sebagai murid yang taat tanpa sadar bahwa dirinya sedang menggali kuburnya sendiri. Perusahaan seperti ini tidak sadar bahwa di dalam dirinya ada potensi-potensi sumber daya manusia yang dapat digerakkan sesuai dengan sistem nilai yang dimiliki. Mereka tidak sadar bahwa sumber daya manusia itu perlu disentuh dengan cara yang paling bersahaja agar potensi-potensi yang ada dalam dirinya dapat berbuah manis di kemudian hari. Pada sisi inilah pemimpin mesti mengambil kue yang lebih besar; memperkuat aspek pendidikan di dalam perusahaan dan dengan sistem nilainya yang dimiliki.
* * *
Memasuki awal abad ke-20, kerajaan ini runtuh; Sultan terakhir diusir dari tanah leluhurnya dan dihinakan di negara lain; lalu lahirlah negara modern Turki seperti yang kita kenal pada saat ini yang kendati tidak sekuat leluhurnya tapi tetap memiliki taji. Wallahu A’lam bish-shawwab.
