nun
Esai Opini Sastra

Prediksi Teror, Korupsi di/dalam (Sastra) Indonesia

Oleh Bunyamin Fasya*

 

Persoalan-persoalan di Indonesia dewasa ini memang cukup beragam terjadi.  Mulai dari kasus terorisme yang cukup meneror, bencana, dan kasus korupsi. Terutama tentang penyakit korupsi sepertinya sudah menahun bertahun-tahun tanpa penyelesaian yang tak mengenal kata finish. Hal ini bisa dilihat bahwa kasus korupsi sampai hari ini bukan semakin berkurang melainkan semakin bertambah. Meskipun negeri tercinta kita ini sudah membuat penanggulangan dengan dibuatnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Data korupsi di Indonesia. Hasil survey Lembaga Transparency Internasional Indonesia (TII) menunjukkan Indonesia berada di empat negara terbawah dalam urutan tingkat korupsi. Berdasarkan indeks persepsi korupsi yang dilansirnya Indonesia berada di angka 32. Indeks persepsi korupsi ini merupakan indikator gabungan yang mengukur tingkat persepsi korupsi dari negara-negara.

Penyakit korupsi yang berkembang di Indonesia ini, ternyata sudah terprediksi cukup lama. Dalam karya sastra  cerpen yang berjudul “Pak Sarkam” karya Achdiat K. Mihardja (1956) misalnya cukup tergambarkan dengan baik. Cerita pendek ini bercerita tentang keluarga Pak Sarkam yang hidup tentram di desa yang bernama Pasirhuni. Pak Sarkam hidup bahagia sebagai petani bersama anak istrinya (Nyi Emeh, Nyi Cicih, Nyi Inah, Koko, dan anak pungutnya Mahmud).

Namun ketentraman sebagai keluarga tidak begitu lama, karena diceritakan pada suatu malam kampung mereka kedatangan tamu tak diundang dengan membawa senjata dan merampas habis semua harta mereka. Kejadian ini tersebar ke kota bahwa penduduk Pasirhuni habis harta miliknya. Beberapa hari kemudian surat-surat kabar di kota-kota beramai-ramai memuat berita berikut: Gerombolan menggarong. Penduduk Pasirhuni habis harta miliknya. Koran laku. Orang berebutan mau baca. Maka terbacalah oleh pemimpin. Dan pemimpin geleng-geleng kepala… (hal. 14). Dan untuk menyambung kembali kebahagiannya akhirnya Pak Sarkam meminjam uang ke tengkulak (Haji Mukti) di kota. Sebagai gantinya Pak Sarkam harus membagi hasil dari panen padinya.

Kejadian yang terjadi pada masyarakat Pasirhuni tersebut tidak hanya satu kali melainkan berkali-kali. Gerombolan datang kembali dan merampas harta mereka kembali. Sampai pada akhirnya Pak Sarkam mendengar kabar dari tetangganya bahwa pihak tentara dari kota akan datang mengamankan. Terjadilah pertempuran antara tentara dan gerombolan sampai membumihanguskan desa Pasirhuni. Kebahagian Pak Sarkam kandas kembali; Nyi Emeh tertembak, Nyi Cicih dan Mahmud hilang, rumahnya hangus. Dan beberapa hari kemudian, maka tersiarlah berita berikut dalam surat-surat kabar di kota-kota: Pertempuran hebat berkecamuk antara sebuah patroli tentara dan gerombolan. Kampung Pasirhuni rata dibakar gerombolan. Dan pihak tentara tidak ada kerugian apa-apa. Dan pihak gerombolan tiga orang mati. Koran-koran laku. Orang berebutan lagi ingin baca. Maka terbacalah oleh pemimpin, dan pemimpin geleng-geleng kepala…(hal. 18).

Akhirnya Pak Sarkam memutuskan pergi ke kota, karena di kampung sudah tidak punya apa-apa. Dan menurut Pak Husin kota itu penuh harapan karena pemimpin-pemimpinnya pandai-pandai dan pemimpin-pemimpin itu adalah bapak rakyat. Begitu informasi yang didapat oleh Pak Sarkam dari Pak Husin. Namun apa yang terjadi di kota ternyata tidak seperti yang diharapkan. Hidup di kota sangat berat jika tidak punya famili tidak bisa berbuat apa-apa. Singkat cerita untuk beban hidupnya akhirnya Pak Sarkam dan Koko menjadi pengemis dan Nyi Inah hilang entah ke mana, dan ketahuan Nyi Inah menjadi seorang pelacur karena dipaksa. Dan surat-surat kabar di kota kemudian panjang-panjang memuat berita: Perempuan-perempuan jalang sekarang semakin merajalela di kota-kota. Jumlahnya meningkat sampai belasan ribu. Penyakit kotor bercabul di mana-mana. Koran-koran laku. Orang berebutan mau baca. Maka terbacalah oleh pemimpin. Dan pemimpin geleng-geleng kepala…(hal. 23).

 

Indonesia Tanpa Solusi

Indonesia (baca: kota) memang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Kota mengiming-imingi banyak hal salah satunya adalah kesejahteraan, namun ternyata semenjak lama kota tidak demikian adanya. Justru kota memberikan penderitaan bagi rakyat. Kasus yang dialami Pak Sarkam di atas adalah gambaran Indonesia dimana realitas perkotaan telah menjadikan dirinya terbengkalai tak karuan. Pembangunan yang tidak merata, ketidaksejahteraan masyarakat, yang kaya dan miskin semakin sangat berjarak. Bahkan lebih parahnya lagi, Achdiat menggambarkan bahwa pemimpin hanya geleng-geleng kepala saja.

Demikian pun jika kita melihat Indonesia hari ini. Prediksi yang digambarkan oleh Achdiat di atas, sekarang pun terjadi kembali. Jika di atas masyarakat diteror oleh gerombolan, nah hari ini banyak kejadian-kejadian terorisme yang terjadi seperti akhir-akhir ini yang terjadi di Bekasi. Kemudian kasus korupsi yang tak henti-hentinya menghantui Indonesia. Kasus Hambalang yang tak kunjung selesai sampai melibatkan beberapa petinggi menteri dan partai, kasus suap MK Akil Mukhtar dalam kasus pilkada, Bank Century, bencana alam, dan lain-lain.

Memang hal ini disebabkan oleh banyak kepentingan pribadi dan golongan tertentu yang pada akhirnya rakyat yang tidak menahu apa-apa menjadi korban dari efek yang kacau seperti ini. Situasi politik yang tak jelas juga menjadi imbas dari semua yang terjadi di negara tercinta ini lagi-lagi rakyat menjadi korban. Rakyat menjadi sosok-sosok  Sarkam yang baru.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi dari semenjak dulu sampai sekarang ini, ternyata tidak menjadi cerminan dalam upaya pembangunan masyarakat. Indonesia rupanya tidak mempunyai solusi bahkan gerakan yang signifikan dalam upaya mensejahterakaan masyarakat. Orang-orang yang terlibat dalam kasus korupsi saja misalnya masih bisa berlaga, tidak seperti laiknya Sarkam korban dari kenyataan yang menjadi edan. Satu-satunya harapan adalah kinerja yang sedang dilakukan oleh KPK sebagai pemberantasan kasus-kasus korupsi di negeri ini. Meskipun KPK sendiri banyak dihantui dengan alibi-alibi yang tak jelas dari sebagian orang.

 

Kesadaran Kolektif

Sebagai masyarakat, tentunya kita harus mempunyai kesadaran kolektif yang berkesinambungan dalam upaya pemberantasan teror dan korupsi di negeri ini. Di mulai dari tingkat eksekutif sebagai pemangku negara sampai ke tingkat bawah dalam hal ini masyarakat. Semuanya harus andil bagian satu sama lain dalam upaya meningkatkan kesejahteraan. Jika kesadaran itu tidak diusung secara bersama-sama maka prediksi teror dan korupsi akan terus berlanjut sampai kapanpun tidak ada habis-habisnya.

Kita harus menyadari semua itu, dan harus sadar pula tentang kesadaran sejarah negeri ini yang telah dibangun dengan penuh perjuangan. Sebagaimana kita harus disadarkan dalam dialog dua orang pemuda dalam cerpen Achdiat ini:

“Ya,” kata pemuda yang satu, “mereka terlalu melihat ke masa depan dan kurang memperhatikan masa kini.”

“Itulah celakanya,” sahut temannya, “padahal apakah masa depan itu akan bisa gemilang, kalau masa kini yang bobrok ini dibiarkan saja tetap bobrok macam sekarang. Kacau balau, tidak aman, miskin, korup…” (hal. 27).

Kesadaran-kesadaran semacam itulah yang mesti kita jaga, bahwa masa kinilah yang lebih penting, masa kinilah yang mesti diperbaiki hari ini. Meski pada kenyataannya mungkin masih tepat jika sekarang pun kita mengutip apa yang telah ditulis oleh Achdiat dalam cerpen “Pak Sarkam” ini. Beberapa hari kemudian surat-surat kabar di kota-kota beramai-ramai memuat berita yang terjadi di negeri Indonesia tercinta ini. Koran laku. Orang berebutan mau baca. Maka terbacalah oleh pemimpin. Dan pemimpin geleng-geleng kepala saja. Wallahu ‘alam bi al-shawab.

* Pesastra, dosen honorer pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Related posts

Tentang Kepemimpinan

admin

Memikirkan Diri Sendiri

admin

3 hal penting memulai proses pembelajaran abad 21

admin

Leave a Comment