Bunyamin Faisal S
Abstrak
- Pendahuluan
Menurut beberapa catatan, seni (termasuk sastra) memiliki beberapa aliran. Salah satu aliran dalam seni tersebut adalah aliran impresionisme. Impresionisme pada awalnya berkembang dalam bidang seni rupa, berkembang menjadi gerakan seni pada abad ke-19 yang digawangi oleh seniman-seniman dari Paris. Pada awalnya, nama aliran ini dikutip dari lukisan Claude Monet, “Impression, Sunrise”. Adapun karakteristik seni rupa ini adalah menitik-beratkan pada pola penyampaian kesan keseluruhan objek dalam suatu peristiwa tertentu, dengan warna-warna terang, goresan kuas yang kuat, sudut pandang yang tidak biasa, dan brushstrokes untuk menampilkan efek-efek pantulan cahaya.
Aliran impresionisme pun berkembang tidak hanya pada seni rupa saja melainkan pada seni sastra lebih lanjut. Secara teoritis, perkembangan teknik impresionisme dalam sastra sama halnya seperti seni rupa yaitu dengan menegaskan tindakan ‘kesan’ pengarang dalam mengolah peristiwa yang dialaminya. A.F. Scott dalam kamusnya Current Literary Terms A Concist Dictionary menjelaskan bahwa impresionisme dalam penulisan karya sastra tidak memperlakukan realitas peristiwa secara objektif, melainkan diekspresikan dan disajikan dengan menuliskan kesan (impressions) yang dialami oleh si pengarang.
Jika di dalam seni rupa impressions yang ditangkap adalah the effect of light on what (they) painting, lalu bagaimana dalam sastra bil khusus dalam sajak[1], mengingat dalam genre ini berbicara dalam sisi aksara? Lalu apakah aksara memiliki ‘kesan cahaya’ juga? Mari kita lihat dengan seksama dalam seutas sajak-sajaknya Sapardi Djoko Damono (selanjutnya SDD).
- Analisis
2.1. Kesan Kejut Sebuah Pola
Berbicara sajak-sajak SDD, pasti sudah tidak asing lagi mengingat sajak-sajaknya yang sudah cukup dikenal dalam kancah kesusastraan Indonesia. Sebut saja beberapa sajaknya yang cukup fenomenal dan pernah masuk infotainment Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana, Metamorfosis, Yang Fana Adalah Waktu, dan sebagainya. Dan mari kita lihat seutas sajak-sajak yang saya baca sebentar yang kemudian bergetar-getar.
Membaca sajak-sajak SDD, bagi saya, sungguh sebuah perjalanan yang sangat panjang dan memabukkan. Meskipun jika dilihat dari segi bahasa (baik frasa, kalimat, serta diksi-diksi) yang dipakai SDD kita jarang sekali mengernyitkan kening untuk memahami apa arti dari semua itu. Setiap baitnya mengalir begitu saja laiknya kita membaca narasi yang tidak rumit seperti kita sedang mengendarai mobil di jalan tol yang terkesan tanpa rintangan apa pun. Kita tinggal masuk gerbang tol, mengambil kartu masuk, dan melajulah lalu di pintu keluar kita membayar. Namun permasalahannya perjalanan bermobil itu pun tidak sepenuhnya terus di jalan tol, setelah keluar tol kita akan masuk ke jalan umum biasa dan pasti akan menemukan kesulitan-kesulitan tertentu; macet, tilang, muter-muter jalur dan sebagainya.
Begitupun dengan sajak-sajak SDD, pada satu sisi ketika saya membacanya seolah-olah saya berada pada jalan tol itu namun di sisi lain ketika mengingat pada struktur sajak lebih jauh lagi pada sistem ta’wil dalam menemukan dan mengembalikan makna-maknanya selalu menemukan kesan yang membutuhkan energi banyak untuk diindahkan.
Sajak-sajak SDD bagi saya adalah ruang sunyi namun sunyi baginya adalah minuman keras. Mungkin frasa ‘minuman keras’ yang bagi saya selalu membutuhkan energi khusus itu. Pada sajak Dalam Sakit misalnya, saya merasakan kesunyian itu terjadi. Ya, mungkin karena judulnya juga memengaruhi, dan kita bisa membayangkan bagaimana ketika kita berada dalam keadaan sakit, pasti semuanya kelu, masakan terasa hambar di lidah, termasuk ‘suara lonceng’. Waktu lonceng berbunyi // percakapan merendah, kita kembali menanti-nanti // kau berbisik: siapa lagi akan tiba // siapa lagi menjemputmu berangkat berduka.
Pada bait di atas SDD yang impresionis lewat suara lonceng sedang menegaskan garis tegasnya dalam bercakap. Jika Monet, membuat lukisan “impression, sunrise” lewat kesan yang ditimbulkan oleh cahaya matahari, nah SDD lewat suara lonceng. Lonceng menjadi petanda yang besar bagi SDD seperti mataharinya Monet, maka direndahkanlah suaranya. Karena lonceng—yang bagi saya—berasosiasi pada suatu tempat yang kita sebut Gereja atau Katedral tempat ibadah, rumah duka terakhir, tempat ‘penjemputan’ usia, maka dengan gesit SDD dalam percakapannya mengingat sisa-sisa peristiwa; kau berbisik: siapa lagi akan tiba // siapa lagi menjemputmu berangkat berduka.
Kembali pada Monet, ruang impresionisme lukisannya dibentuk oleh pemakaian goresan warna-warna pendek, pecah, dan murni untuk memberikan efek nyawa terhadap lukisan. Dengan begitu lukisan akan terlihat tegas. SDD pada bait selanjutnya membuat penegasan-penegasan goresan warna-warna pendek sekaligus menjadi bernyawa pada sajaknya. Di ruangan ini kita gaib dalam gema/ Di luar malam hari // mengendap, kekal dalam rahasia // kita pun setia memulai percakapan kembali // seakan abadi, menanti-nanti lonceng berbunyi.
Pada bait selanjutnya itu, kita bisa menangkap aku lirik yang menegaskan keabadian dari sisa suara lonceng. Ditegaskan oleh diksi-diksi pendek dan pecah seperti gaib, gema, malam, endap, kekal, dan rahasia. Di sinilah apa yang jika boleh saya menafsir bahwa jika pada bait pertama suara lonceng dan pada bait kedua adalah gema, maka itulah yang menurut Zaidan (2000) menjelaskan kesan yang terdapat pada penalaran, perasaan, dan kesadaran pada saat tertentu.
Sebagai bentuk kelanjutan dari produk impresionisme SDD, saya membawa peluang kembali untuk menemukan kesan kejut yang luar biasa dalam sajak “Kartu Pos Bergambar: Jembatan “Golden Gate”, San Francisco”.
Kabut yang likat dan kabut yang pupur
Lekat dan grimis pada tiang-tiang jembatan
Matahari menggeliat dan kembali gugur
Tak lagi di langit berpusing di pedih lautan
(Hujan Bulan Juni, 1971)
Jika dilihat dalam bentuk realitasnya, sajak ini hanya menceritakan gambar yang tertera pada kartu pos. Saya membayangkan bahwa si aku menerima kartu pos dari San Francisco, lagi-lagi ada kesan yang timbul dari kertas itu. Yang menjadi menarik adalah daya narasi untuk menggambarkan peristiwa itu, yang dengan hanya empat baris namun efek kejutnya sangat luar biasa. Bagi saya dari empat baris itu ada tiga teknik narasi yang menarik pertama, realitas dibangun oleh baris ke-1, kabut yang likat dan kabut yang pupur. Kedua, teknik pemberian kesan pada baris ke-2 dan ke-3 dengan kalimat-kalimat tegas, lekat dan grimis pada tiang-tiang jembatan//matahari menggeliatdan kembali gugur. Ketiga, teknik dramatisasi yang membuat realitas itu menjadi lebih berkesan yakni, tak lagi di langit berpusing di pedih lautan.
Kemudian kesan kejut yang timbul dalam sajak ini, selain rima akhir yang sangat apik, diksi-diksi yang dipakai SDD pun sangat gesit. Jika diksi itu boleh dikelompokan, maka ada dua kelompok kata yang tegas; kata likat, lekat, dan geliat menjadi kendaraan untuk menegaskan garis selanjutnya kelompok kata pupur, grimis, dan gugur menjadi penegasan efek pencahayaan sajak.
Pada kelompok kata di atas, kelompok kedualah yang sangat memberikan kesan kejut yang kuat. Kabut yang serupa pupur lalu tiba-tiba disandingkan dengan gerimis diakhir ditegaskan dengan diksi gugur. Pada bait-bait ini objek tidak ditulis secara objektif melainkan dibandingkan yang objektif dengan yang subjektif. Dari sini kita bisa melihat kesan sajak SDD selalu terasa musikal, mengalun, penuh dengan garis-garis perenungan[2] yang sukar ditangkap. Dari sunyi ke minuman keras.
Langkah Akhir
Membaca sajak-sajak SDD semuanya menjadi sederhana, sajak-sajaknya sudah tidak berkonsentrasi pada detail-detail teknik mengenai kontur, volume, dan kiasan, melainkan SDD sudah melampaui teknik tersebut sehingga yang muncul adalah ruang kesan yang mengagumkan. Setiap peristiwa baik volumenya besar atau pun kecil menjadi sederhana namun memiliki kesan cahaya yang menyilaukan.
Perkembangan selanjutnya saya melihat puisi-puisi SDD yang bagi saya impresionistik, dia menemukan penemuan-penemuan sudut pandang dan inilah suatu ciri dari teknik impresi kesan cahaya dituangkan dengan banyak variasi, bisa dilihat pada Hujan Dalam Komposisi I, Hujan Dalam Komposisi II dan lain-lain. Meski agak bertentangan juga kalau dalam Impresionisme seni rupa selalu menampilkan cahaya yang terang namun SDD saya menyebutnya Impresionis mitis tetapi gesit. Cag.
2012
[1] Sengaja saya pakai istilah sajak bukan puisi, karena kita sedang membicarakan dalam bentuk riil sebuah karya. Jika dalam bahasa Inggris ada istilah Poetry dan Poem, sebagaimana jika diharfiahkan padanan kedua kata tersebut adalah puisi. Namun pada dasarnya poetry merujuk pada keilmuannya dan poem merujuk pada riil karyanya. Dengan demikian saya memadankan istilah poetry berpadanan dengan puisi sementara poem untuk sajak.
[2] Untuk perenungan, sengaja tidak saya bahas karena hal demikian sudah bukan urusan bersama. Melainkan sudah impression, sudah milik pribadi-pribadi. Dan biasanya ‘permenungan’ yang paling menggetarkan setelah dianalisis oleh orang-orang yang saleh seperti Aa Gym, A.A. Navis, tidak termasuk Aa Tarmana dan Aa Boxer.
