“Bro, kenapa masjid kita sering kosong?” kata seorang teman di tengah perjalanan menuju kota Bandung. Mendengar pertanyaan ini, saya tidak ujug-ujug menjawab. sebab, pertanyaan ini bisa jadi pertanyaan yang tidak tepat. pasalnya, masjid tidak pernah kosong. apapun itu, melibatkan banyak orang atau hanya satu orang, masjid tidak pernah sepi dari aktivitas. pertanyaan kenapa masjid itu kosong, mungkin bukan karena faktanya demikian tapi karena si penanya tidak pernah ke masjid dan rindu ingin memasukinya [hehehhe, saya cuma menebak-nebak!]. tapi, bisa jadi benar adanya demikian, sebab setelah ditanya berapa kali dalam seminggu dia ke mesjid, jawabannya satu kali. pikirku, ya lumayan daripada enggak sama sekali.
menurut saya, persoalan masjid lebih asyik diarahkan pada fungsinya yang konon luar biasa banyak. mulai dari sarana ibadah, tempat pendidikan, pemberdayaan masyarakat dan lain-lain. ini lebih menarik perhatian saya ketimbang berbicara betapa kosongnya masjid kita. sebab, bisa jadi, kosongnya masjid kita karena kehilangan fungsi takwanya. beberapa ayat al-Quran menjelaskan bahwa masjid itu dibangun atas dasar takwa. sedangkan takwa itu sendiri lebih banyak menjelaskan perihal keberfungsian individu, kelompok dan masyarakat secara umum. artinya, kemampuan masjid untuk ‘mencegah’ [makna dasar dari takwa] dari hal-hal yang tidak diinginkan, mungkin, sudah tidak ada lagi. karenanya, orang berbondong-bondong mencari tempat lain agar tidak terkena hal-hal yang merugikan.
katiadaan kemampuan pengurusnya untuk melakukan hal itulah yang sering menjadikan masjid kosong. dengan demikian, penting bagi kita semua untuk bisa menjadikan masjid sebagai tempat penting yang bisa memenuhi kebutuhan kita. tidak saja memenuhi kebutuhan ruhaniah dengan melakukan berbagai ibadah individual (habl min Allah), tetapi juga ibadah sosial (habl min an-nas). inilah yang mungkin alfa. sebab utamanya, saya sendiripun tidak tahu. tapi, jikapun boleh mengira-ngira, mungkin, ini adalah ekses dari pola pendidikan kita yang sekuler. orang-orang muslim di negeri kita sudah terbiasa belajar bahwa ilmu itu ada yang dunyawi dan ada juga yang ukhrawi.
pendapat itu tidak salah-salah amat. tapi, mesti direorientasi ulang pemaknaannya. sebab, kita semua hidup di dunia dan akan kembali ke kampung akhirat. artinya, semua pengetahuan itu penting agar selamat di dunia dan akhirat. karena semua penting, maka pada dasarnya tidak ada batas pasti tentang kedua ilmu tersebut. keduanya berasal dari Allah dan bisa digunakan sebagai bekal kembali kepada Allah. mungkin, kita ingat pelajaran bahwa yang namanya ayat Allah itu ada dua, yang berupa al-Quran (qauliyah) dan juga berupa alam (kauniyah). penjelasan tentang dua ayat tersebut sebenarnya bukan sebagai sesuatu yang terpisah. tetapi sebagai sesuatu yang padu. dengan kata lain, belajar matematika, biologi, sosiologi dst. harus memiliki efek yang sama dengan belajar fiqh, kalam dst. yaitu, adanya pemahaman bahwa kita adalah manusia dan bukan tuhan. artinya, orang yang belajar ilmu-ilmu eksakta atau ilmu-ilmu sosial harus sama berakhlaknya dengan orang yang belajar agama.
saya sungguh tidak tahu apakah pendapat ini benar atau setidaknya mendekati saja. tapi yang jelas, kehadiran mesjid dalam dunia pendidikan Islam Indonesia sama pentingnya dengan hadirnya pesantren yang dianggap sebagai ibu yang telah melahirkan institusi pendidikan semisal madrasah atau lainnya. di banyak institusi pendidikan Islam, mesjid seperti fasilitas wajib yang mesti hadir di tengah-tengah berbagai fasilitas lainnya–yang menurut saya–memiliki makna penting dalam proses pendidikan itu sendiri. sebab, di dalamnya, berbagai aktivitas pengetahuan, mental dan spiritual ditumbuhkembangkan bahkan ‘ditanam’ di benak para murid. (lagi-lagi) menurut saya, kualitas lembaga pendidikan Islam hanya akan terlihat tiga aktivitas penting di atas dan mesjid adalah rumah penting sebagaimana kehadiran institusi pendidikan itu sendiri.
