nun
Agama

MAUT BUKAN AKHIR CERITA, MELAINKAN SEKEDAR AWAL

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya[1]

 

Dialah Allah!

Siapakah yang bila seseorang mendatanginya dalam keadaan takut lalu Dia memberinya rasa aman?

Siapakah yang bila seseorang mendatanginya dalam keadaan sedih lalu Dia akan memberinya penghiburan?

Siapakah yang bila seseorang mendatanginya seraya meminta bantuan lalu Dia akan memberinya pertolongan?

Siapakah yang bila seseorang mendatanginya dalam duka lalu Dia akan membahagiakannya?

Siapakah yang bila seseorang mendatanginya dalam keadaan bingung lalu Dia akan memberinya petunjuk?

pilihlah waktu-waktu ijabah, bersimpuhlah di pintunya.

Menghadaphlah kepada-Nya di sepertiga akhir malam.

Sungguh, anak panah “doa selepas qiyâm (bangun malam)” tidak akan meleset.

Percayalah kepada rabb-mu. Karena sesungguhnya tangan-tangan hampa yang terulur kepada-Nya tidak akan kembali kecuali dalam keadaan penuh.

Dan sebelum engkau menjalani itu, selayaknya seluruh makanananmu halal.

Di dalam hadis disebutkan, “Bersihkan lambungmu (dari makanan haram), maka engkau akan menjadi orang yang doanya dikabulkan (mujâb ad-da‘wah).”

***

 

 

Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita.[2]

 

Dengan ayat ini, padamkanlah api ratapmu terhadap setiap kesempatan yang luput, terhadap semua fungsi yang telah kau hancurkan, terhadap semua kekasih yang padanya telah kau ulurkan tanganmu di tengah jalan, terhadap semua teman yang kau pandang berparas tampan. Ini hanyalah topeng srigala yang buas.

Apa yang telah Allah ambil darimu, itu tentu untuk hikmah tertentu. Dan Apa yang Allah biarkan tetap ada padamu, tentu karena kasih-Nya kepadamu.

Jika engkau telah mengetahui hikmah tersebut, maka bersyukurlah. Dan bila engkau belum juga mengetahuinya, maka bersabarlah.

Semua Ketentuan Allah adalah baik, meskipun menyakitkanmu.

***

 

Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.[3]

Tidak perah terbersit di banak Adam a.s. dan Hawa,

bahwa seseorang bisa berdusta dengan bersumpah atas nama Tuhan.

Tetapi Iblis sungguh telah melakukannya.

Adapun nasihat Iblis, sungguh Iblis telah menamai sesuatu dengan selain namanya untuk memperdaya.

Namanya adalah pohon maksiat,

tetapi untuk Adam dan Hawa, Iblis menamainya pohon khuldi (keabadian).

Pada langkah Iblis inilah iblis-iblis di zaman sekarang melakukan tipu daya.

Mereka manamai khamer sebagai minuman jiwa,

ketelanjangan sebagai mode,

mesum sebagai modern,

zina sebagai kebebasan.

Jangan sampai penamaan yang berubah itu memuatmu terperdaya!

***

 

 

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.[4]

 

Bersegeralah! karena sesungguhnya kematian tidak pernah menunggu!

Besok aku akan bertobat. Besok aku adakan menyusun agenda untuk membaca Alqur’ân. Besok aku akan mengikuti pengajian dengan penuh semangat…

Saat hari esok itu datang, tidak satu pun yang kita niatkan itu kita lakukan!

Adapun tentang panjang angan-angan, kita semua meyakini bahwa maut masih jauh!

Sungguh berbeda keadaannya dengan mereka yang baru saja mati!

Bersegeralah, karena terlambat sejenak saja bisajadi membebanimu sepanjang usia,

Dan sesuatu, akan dikenang dengan sesuatu

Ash-Shunâbahî berkata, “Kami berangkat keluar dari Yaman untuk hijrah, hendak mendatangi Nabi saw. Namun sesampainya kami di Madinah, kami diberitahu bahwa Rasulullah saw. sudah wafat sejak lima malam lalu.”

Terlambat lima malam telah mencegah mereka dari kemuliaan derajat sahabat.

Maka bersegeralah, karena terlambat sesaat bisa saja mencegahmu dari surga.

***

 

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.[5]

 

Maut adalah gelas yang darinya semua akan minum: yang beriman maupun tukang maksiat, Nabi maunpun raja penguasa zhalim, jin maupun malaikat. Tidak akan ada yang tersisa, kecuali Allah.

Maut bukanlah akhir cerita. Sebaliknya, maut adalah awal hikayat.

Cukuplah kematian sebagai penasihat.

Abû Nuwâs yang masyhur sebagai penyair mabuk pernah punya seorang tetangga yang salih.

Ketika tetangga ini mati, Abû Nuwâs ikut mengiring jenazahnya.

Ketika berada di kuburnya, dia berkata, “Sekarang, engkau lebih menasihati daripada saat engkau hidup.”

Yakni, semua nasihat yang telah engkau ungkapkan untuk menasihatiku,

tidak setara dengan penglihatanku kepadamu di kuburanmu dalam hal nasihat.

***

 

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.[6]

 

Dunia ini adalah temapt menanam, bukan tempat memanen.

Dunia adalah tempat ujian, bukan tempat pembalasan.

Salah satu ujian dari Allah Ta‘âlâ kepada hamba-hamba-Nya adalah kehadiran berbagai musibah bagi mereka:

Kehilangan orang-orang tercinta adalah musibah.

Kehilangan harta adalah musibah.

Tetangga yang buruk, suami yang selingkuh, pemimpin yang zhalim, semua ini adalah musibah.

Siapa yang sabar, maka dia lulus ujian.

Barangsiapa marah, maka dia gugur dalam ujian.

Tidak seorang pun manusia yang terbebas dari musibah. Bahkan para nabi, merekalah orang-orang yang paling banyak menanggung bala.

Ahli sejarah dan biografi menceritakan bahwa ketika Dzulqarnain tiba di Babil, ia mengalami sakit parah

mengira maut akan segera menjemputanya. Mengetahui keadaan Dzulqarnai seperti itu, ibunya merasa khawatir.
Dzulqarnain pun ingin menenangkan hati ibunya.

Lalu dia mengiriminya ghibas yang sangat besar.

Dia berpesan, bila dirinya mati, sembelihlah ghibas itu, lalu masaklah.

Kemudian undanglah orang-orang khusus; orang yang tidak pernah mengalami musibah, atau orang yang tidak pernah kehilangan orang terkasih.

Ketika Dzulqurnain meninggal, sang Ibu menunaikan pesannya.

Tetapi betapa kagetnya ia, karena tidak seorang pun yang datang memenuhi undangan.

Karena tidak ada satu pun rumah yang penghuninya tidak pernah mengalami kehilangan atau musibah.

Sang ibu segera paham pesan dari anaknya itu, lalu dia pun berdoa untuknya:

Allah mengasihimu, engkau telah melipurku di saat engkau hidup dan bahkan setelah engkau menjadi mayit.

***

 

Hai Zakariyyâ, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu…[7]

 

Tulangnya sudah rapuh.

Kepalanya penuh uban.

Isterinya madul.

Namun Zakariyya tahu bahwa sabab-sabab itu menjadi hukum yang berlaku bagi manusia,

tetapi tidak menjadi hukum bagi Allah Yang Mahakuasa.

Maka Zakariyya pun mengangkat tangannya seraya berdoa, “…maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera.”

Jawaban pun datang, “Hai Zakariyyâ, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak…

Orang yang menyibukkan hatinya dengan sebab-sebab, Allah akan membiarkannya terikat pada sebab-sebab itu.

Adapun orang yang mengikatkan hatinya kepada Allah, maka Allah akan sediakan sebab-sebab itu untuknya.

***

Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu.[8]

Hati mengalami sakit seperti halnya tubuh juga sakit.

Mengobati penyakit-penyakit badan lebih mudah daripada mengobati penyakit-penyakit hati.

Penyakit hati yang paling membahayakan adalah sombong: memandang diri sendiri lebih utama dan mulia daripada orang lain karena harta kekayaannya, atau strata akademik yang dicapainya, atau kerena profesi yang digelutinya.

Di sana ada kesombongan puncak yang tidak menyisakan kelebihan-kelebihan tiap orang pada dirinya, kedudukan dan fungsi dirinya. Dan ini adalah kesombongan yang paling buruk.

Di dalam hadis disebutkan, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya ada setitik kesombongan.”

Bagian dari kebiasaan orang salih adalah melepaskan diri seketika merasa ada kesombongan dalam dirinya.

Suatu hari, seorang sahabat mulia bernama ‘Abdullâh ibn Salâm melintas di sebuah pasar sambil memikul seikat kayu bakar.

Seseorang berkara kepadanya, “Bukankah Allah telah membuatmu kaya?”

Beliau menjawab, “Ya. Tetapi aku ingin meluluhkan kesombangan.”

***

 

Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman.[9]

Tidak ada sesuatu yang lebih Allah murkai daripada kezhaliman selain syirik.

Murka Allah Ta‘âlâ kepada orang-orag zhalim atas kezhaliman mereka itu sampai pada tingkat dimana Allah akan mengabulkan doa orang kafir yang dizhalimi terhadap orang muslim yang zhalim.

Bukan karena Allah menyukai si kafir dan membenci muslim.

Tetapi karena Allah menyukai keadilan dan membenci kezhaliman.

Ibn Taimiyah berkata, “Allah akan menolong negara kafir yang adil mengatasi negara muslim yang zhalim.”

Suatu hari seseorang mengirim pesan kepada ‘Abdullah ibn ‘Umar: “Tuliskanlah kepadaku seluruh ilmu!”

Maka Ibn ‘Umar pun menulis untuknya, “Ilmu itu banyak. Tetapi jika engkau sanggup menjumpai Allah dengan tanggungan yang ringan dari darah orang-orang, perut yang bersih dari harta mereka, lisan yang terjaga dari kehormatan mereka, dan memenuhi kepentingan bersama mereka. Maka lakukanlah. Salam.”

***

 

Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri[10]

Ada perbedaan besar antara orang yang melakukan maksiat karena lemah dan dia merasa hina setelah melakukannya, dengan orang yang melakukan maksiat seraya menganggap enteng maksiat dan tetap angkuh setelah melakukannya.

Orang yang berbuat dosa, lalu engkau menasihatinya dan dia berkata kepadamu:

“Berdoalah untukku. Aku sungguh telah dikalahkan syahwatku, setan telah mewaswasiku dan nafsu telah mempercatiknya untukku.”

sangat berbeda dengan orang yang melakukan dosa, lalu saat kau nasihati dia berkata, “Tidak masalah. Hidup ini cuma sekali. Hai, bersenang-senanglah!”

Macam orang yang pertama akan mudah untuk kembali kepada Allah, karena permasalahannya ada pada anggota tubuhnya.

Adapun macam orang yang kedua akan susah untuk kembali kepada Allah, karena permasalahannya ada di hatinya.

Sufyân ibn ‘Uyainah berkata:

Orang yang maksiatnya dalam urusan syahwat, berharaplah kebaikan untuknya.

Adapun orang yang maksiatnya dalam kesombongan, maka khawatrilah padanya.

Karena sesunggunya Adam a.s. bersalah karena mengikuti dorongan hasrat, dan dia diampuni.

Sedangkan Iblis membangkang seraya menyombongkan diri, maka dilaknat.

***

 

…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil…[11]

Kebencian yang berlebihan itu menghancurkan.

Cinta yang berlebihan juga menghancurkan.

Nabi Yûsuf a.s. telah diuji dengan keduanya.

Kebencian yang berlebihan terhadap diri Nabi Yûsuf telah menyebabkan dirinya dilempar ke dalam sumur.

Kecintaan yang berlebihan terhadap dirinya telah menyebabkan dirinya dimasukkan ke dalam penjara.

Kita kadang-kadang tidak mampu menguasai tali kekang hati kita.

Tetapi kita diperintah untuk berlaku adil, dalam keadaa suka maupun tidak.

Jangan engkau jadikan keburukan-keburukan orang yang engkau cintai menjadi kebaikan hanya karena engkau menyukainya.

Jangan pula engkau menjadikan kebaikan-kebaikan orang yang engkau benci menjadi keburukan hanya karena engkau membencinya.

Bersikaplah adil, letakkan sesuatu pada tempat yang selayaknya.

‘Abdullâh bin Muhammad al-Warrâq menuturkan:

Kami datang kepada al-Imam Ahmad.

Al-Imam Ahmad bertanya kepada kami, “Kalian datang dari mana?”

Kami menjawab, “Dari majlis Abû Kuraib.”

Lalu dia berkata kepada kami, “Tulislah tentangnya: sesungguhnya dia seorang Syaikh yang Salih.”

Lalu kami berkata, “Tetapi dia telah mencemarkan nama baik anda.”

Al-Imâm Ahmad berkata, “Syaikh yang shalih yang telah diuji dengan keberadaanku.”

***

 

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.[12]

 

Nikmat surga paling indah bukan pada bidadari-bidadarinya.

Meskipun bidadari-bidadari ini sungguh cantik.

Bukan pula pada sungai-sungainya.

Meskipun sungai-sungai surga ini sungguh indah.

Nikmat surga yang paling puncak adalah memandang wajah Allah Yang Mahasuci.

Ketika ahli surga masuk surga, Allah Ta‘âlâ berfirman kepada mereka, “Apakah kalian menginginkan sesuatu, akan Aku tambahkan?”

Lalu mereka berkata, “Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke surga-Mu, Engkau telah mencerahkan wajah-wajah kami dan menyelamatkan kami dari api neraka?”

Kemudian Allah menyingkapkan hijab dari wajah agung-Nya. Dan tidak ada pemberian Allah kepada mereka yang lebih mereka sukai daripada memandang Allah Yang Mahaagung nan Mahasuci.

***

 

Dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”, lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.[13]

 

Saat peristiwa perang Tabûk, Abû Laylâ dan ‘Abdullâh bin Mughaffal r.a. datang menjumpai Nabi saw. untuk mendapatkan kuda, masing-masing satu kuda tunggangan untuk mereka berjihad bersama Nabi saw.

Ketika mereka dikabari bahwa Nabi saw. tidak mendapatkan kuda untuk mereka, mereka kembali sambil berurai airmata.

Ini tangisan mereka saat ketinggalan melakukan ketaatan.

Lantas, bisa engkau bayangkan bagaimana tangisan mereka bila mereka melakukan maksiat?

Inilah keadaan mukmin sejati.

Berat terasa baginya bila sampai pintu-pintu antara dirinya dan Allah terkunci.

Ini jika di dalam ketaatan yang dia usahakan dengan sepenuh raga, namun karena sebab tertentu Allah membebaskannya dari ketaatan itu.

Lalu bagaimaa bila dia merasa dijauhkan dari Allah oleh sebab dosa yang mereka lakukan!?

***

 

 “…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[14]

 

Perangai yang paling disukai Allah Yang Mahasuci dari seorang hamba adalah sifat yang Dia sendiri senang sifat itu ada pada Diri-Nya.

Karena Dia menyukai pemaafan dan toleransi, maka cinta-Nya kepada orang-orang yang suka memaafkan serta toleran lebih dari cinta-Nya kepada selain mereka.

Suatu hari, Nabi saw. memberi semangat kepada para sahabat tentang kebaikan sedekah.

‘Ulbah bin Zaid yang fakir tidak punya sedikit pun harta untuk disedekahkan.

Kemudian dia berdiri dan berucap, “Ya Rasulullah, aku akan bersedekah dengan penyerahanku atas orang yang telah menzhalimiku.”

Keesokan harinya, Rasulullah saw. betanya, “Mana ‘Ulbah bin Zaid?”

‘Ulbah berdiri dan berkata, “Ini aku, ya Rasulullah.”

Maka Rasulullah saw. pun berkata kepadanya, “Sungguh, Allah telah menerima sedekahmu.”

***

 

Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.[15]

 

Salah satu ujian paling berat di dalam sejarah kemanusiaan.

Seorang tua yang lembut dan penyayang berpuluh tahun tidak jua mendapatkan anak.

Ketika diberi rezeki seorang anak dan dengan penuh kasih sayang hatinya terikat kepada sang anak,

datang perintah untuk menyembelihnya.

Dia tidak menunda-nunda, tidak juga meragu.

Ibrâhîm mengetahui dengan purna bahwa mimpi para nabi adalah wahyu.

Dia bersegera untuk menunaikan perintah Allah, meskipun tidak selaras dengan hasrat hatiya.

Karena itu, jelas Ibrâhîm a.s. adalah seorang budak.

Karena, Allah Ta‘âlâ yang utama di hatinya, bahkan sebelum dirinya sendiri.

Tetapi Allah Yang Mahasuci adalah Dzat Yang Maha Penyayang, terlalu penyanyang untuk menetapkan kewajiban pada kekasih-Nya untuk menyembelih sang anak. Tetapi ketika hati Ibrâhîm terikat kepada Ismâ‘îl a.s., Allah memerintahkan Ibrâhîm untuk menyembelihnya.

Sebilah hati, Allah Ta‘âlâ cemburu bila di hati itu ada bagian untuk selain Dia.

Jadi yang dituntut dari Ibrâhîm a.s. adalah menyembelih kesenangan Ibrâhîm kepada Ismâ‘îl a.s.

***

 

Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.[16]

Di dalam kitab Bahr al-Dumû‘ karya Ibn al-Jauzî disebutkan, dari Sa‘îd bin Jabîr:

Pada hari kiamat didatangkanlah seorang hamba, lalu kitab catatan amalnya diberikan.

Dia tidak melihat shalatnya pada buku catatan itu, tidak juga puasanya.

Bahkan dia tidak melihat ada catatan amal-amal salih yang telah diperbuatnya.

Lalu dia berkata, “Ya Rabb, buku catatan ini miliki orang lain. Aku telah melakukan banyak kebaikan, dan tidak ada di buku catatan ini.”

Maka dikatakanlah kepadanya, “Sesungguhnya Tuhanmu tidak akan salah dan tidak akan melupa. Amal-amalmu lenyap dengan gosipmu terhadap orang lain.”

Berhati-hatilah, jangan sampai engkau beribadah kepada Allah hanya untuk orang lain. Kelak kebaikan-kebaikanmu lenyap, tidak lagi menjadi milikmu karena diberikan kepada orang yang telah engkau buat luka hatinya, orang yang telah engkau makan hartanya, orang yang telah engkau cemarkan harga dirinya, orang yang telah engkau curi pekerjaannya melalui perantara.

***

Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.[17]

Ibn al-Qayyim r.a. berkata, “Hari terbaik seorang hamba secara mutlak adalah hari taubatnya kepada Allah.”

Di dalam atsar disebutkan, bila seorang hamba bertobat, ada penyeru yang berseru: si fulan telah berdamai dengan Tuhannya.

Sesungguhnya manusia, bila dia punya kekasih dari kalangan manusia, lalu terjadi permusuhan di antara dirinya dengan sang kekasih, maka dia akan me-reka ragam alasan untuk mendapatkan kerelaannya, untuk mengembalikan air ke salurannya. Dan Allah Yang Mahasuci lebih hak untuk diminta kerelaannya.

Jika engkau datang dengan amal perbuatan yang membuat keruh cinta yang ada di hatimu kepada Allah, maka carilah berbagai alasan untuk mendapatkan kerelaan-Nya, sebagaimana terhadap kekasih duniamu. Sesekali dengan sedekah, sesekali dengan istighfar, dengan shalat dan membaca Alqur’ân.

Sesungguhnya manusia yang terhormat, bila dimintai kerelaannya dia akan rela.

Lalu bagaimana dengan Allah. Dia sungguh Yang Maha Penyayang di antara yang peyayang?!

***

 

Penyejuk mata hati bagiku dan bagimu.[18]

Ini adalah ungkapan Asiah bint Muzâhim kepada suaminya, Fir‘aun, tentang Mûsâ a.s.

Kemudian Fir‘aun berkata kepadanya, “Itu untukmu. Adapun aku, aku sungguh tidak membutuhkannya.”

Nabi saw. bersabda berkenaan dengan peristiwa ini,

Seandainya saja Fir‘aun mengungkapkan bahwa anak itu adalah penyejuk hatinya sebagaimana diungkapkan isterinya, tentu Allah akan memberinya hidayah sebagaimana Dia telah memberi hidayah kepada isteri Fir‘aun. Tetapi Allah telah mencegahnya.

Qadar dikuasakan pada ucapan, maka ber-tafaul-lah dengan kebaikan, kalian akan mendapatinya.

Orang yang menerima tugas pekerjaan, tetapi di dalam keyakinan dirinya dia bernasib malang, maka kemalangan itulah yang akan didapatinya.

Orang yang menikah dan di dalam keyakinan dirinya si isteri kasar dan menyedihkan, maka baginya dia akan seperti itu.

Perbaikilah prasangka dan ucapan kalian.

Banyak orang datang dari arah lisannya.[19]

***

 

Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).[20]

Apabila engkau menelusuri ungkapan Allah di dalam Alqurân dalam menyifati manusia, engkau akan mendapati Dia berfirman tentang mereka:

lâ ya‘lamûn (mereka tidak mengetahui), lâ yasykurûn (mereka tidak bersyukur), lâ ya‘qilûn (mereka tidak memahami).

Allah Ta‘âlâ berfirman, “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.”[21]

Maka, engkau jangan bersandar terlalu banyak kepada manusia.

Hadapi apa yang menjadi tugasmu, dan mintalah kepada Allah apa yang telah Dia sediakan untukmu.

Al-Imâm Ahmad berkata kepada Hâtim al-Ashamm, “Bagaimana cara untuk selamat dari manusia?”

Hâtim al-Asham pun menjawab, “Berikanlah kepada mereka hartamu, jangan engkau ambil harta mereka. Biarkanlah mereka menyakitimu, jangan engkau menyakiti mereka. Penuhilah kebutuhan mereka, dan jangan kau bebani mereka untuk memenuhi kebutuhanmu.”

Al-Imâm Ahmad berkata kepadanya, “Ini sungguh susah, wahai Hâtim.”

Maka Hâtim pun berkata, “Semoga engkau selamat.”

***

 

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah.[22]

Fitnah sungguh merusak kebersamaan, menghancurkan hubungan.

Betapa banyak manusia tukang fitnah.

Jika seseorang berbicara tentang kebaikan orang lain di ketidak hadiran orang yang dibicarakannya, jarang sekali kau dapati orang yang membawa kebaikan yang dibicarakan itu dan mengabarkannya kepada orang yang bersangkutan.

Jika seseorang berbicara tentang keburukan orang lain di ketidak hadirannya, ada banyak orang yang akan menyampaikan perihal keburukan yang dibicarakan itu kepada orang yang bersangkutan.

Orang-orang salih sudah sejak lama mengunci pintu bagi orang-orang yang suka menyebar fitnah.

Al-Fadhal bin ‘Iyâsy berkata, “Suatu hari aku sedang berada di tempat Wahab bin Munabbih. Lalu seseorang datang menyambanginya dan berkata: Aku berpapasan dengan si fulan, dan dia mencaci maki anda.”

Maka, Wahb bin Munabbih pun berkata kepadanya, “Apakah setan tidak mendapati utusan selain dirimu?!”

Janganlah kalian menjadi utusan setan!

***

 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan mereka yang kafir.[23]

Penolakan Iblis untuk sujud yang diperintahkan oleh Allah kepadanya, menjadi sebab pengusirannya dari rahmat Allah.

Tetapi jika kita sejenak merenung tentang keadaan Iblis, maka keadaan orang-orang muslim yang tinggal shalat, akan menampakkan kepada kita hal yang mengagetkan.

Iblis menolak sujud kepada Adam, sedangkan orang yang tinggal shalat menolak sujud kepada Tuhannya Adam.

Mahasuci Allah. Betapa Dia Maha Penyayang. Betapa kasih-Nya Dia kepada umat ini.

Dia senantiasa menyeru-nyeru hamba-hamba-Nya tiap pagi dan petang.

Meski hamba telah sedemikian rupa melakukan membangkangan, meski hamba telah bergelimang kesalahan, meski hamba telah demikian jauh meninggalkan jalan-Nya.

***

 

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong).[24]

 

Yahyâ bin Mu‘în berkata:

Aku tidak melihat seorang pun yang semisal Ahmad bin Hanbal.

Aku telah menyertainya selama lima puluh tahun.

Dia tidak pernah membanggakan diri kepada kami, tidak dengan sesuatu pun dari kesalihan dan kebaikan-kebaikannya.

Dan beliau pernah berkata, “Kami ini adalah kaum miskin.”

Tawaduklah!

Harta yang menjadikanmu sombang adalah kefakiran.

Ilmu yang menjadikanmu jumawa adalah kebodohan.

Pangkat yang menjadikanmu angkuh adalah kejatuhan.

Keperkasaan yang membuatmu kejam adalah kelemahan.

Kekayaan, keluhuran pangkat dan ilmu bisa kau temukan pada orang-orang yang tawaduk

***

 

dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).[25]

 

Kita berjalan di dunia ini sesuai dengan ketentuan Allah Yang Mahasuci.

Sakit yang menimpamu tidak akan bisa kau singkirkan dengan kemampuanmu.

Maut yang menjemput kekasihmu, pasti akan menepatinya, sehebat apa pun engkau berusaha menghalanginya.

Jabatan yang telah ditakdirkan luput darimu, pastilah engkau akan kehilangannya. Meski setiap pagi kau semir sepatu atasamu.

Sang Nabi saw. punya cara bagaimana merawat hati.

Ketahuilah bahwa apa yang telah ditentukan menimpamu, tidak akan menyalahimu.

Apa yang telah ditentukan tidak akan menimpamu, tentu tidak akan menimpamu.

Al-Hasan al-Bashrî berkata, “Kita, jika tidak diberi imbalan selain pada sesuatu yang kita sukai, tentulah amat sedikit upah yang kita dapat. Dan Allah Sungguh Maha Pemberi, menguji hamba dengan cobaan yang tidak disukainya untuk memberinya pahala.

***

 

…Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.[26]

 

Suatu hari di Baghdad, al-Imam Ahmad pergi ke pasar.

Ia membeli seikat kayu bakar dan memikulnya di pundak.

Ketika orang-orang melihatnya, mereka segera menghampiri.

Para pemilik warung meninggalkan warung mereka.

Semua berhenti dan mengucap salam kepadanya.

Lalu mereka semua berkata kepadanya, “Biar kami pikulkan kayu bakar itu untuk anda.”

Wajah sang imam pun memerah, lalu menangis berurai air mata. Ia berkata,

“Kami ini orang miskin. Kalaulah bukan karena sitrullâh,[27] tentu akan tampak kehinaan kami ini.”

Ahmad bin Hanbal belajar tawaduk dari Nabi saw.

Rasulullah saw. diketahui memerah sendiri susu kambingnya, mengesol sendiri sandalnya, menjahit sendiri pakaiannya, dan membantu pekerjaan isterinya, ‘Âisyah.

Rasulullah saw. mengusap sendiri airmata isterinya, Shafiyyah

Dan ketika para sahabatnya bagi tugas saat penyembelihan kambing

Salah seorang di antara mereka berkata, “Aku yang bagian menyembelihnya.” Satu orang lainnya berkata, “Aku yang bagian mengulitinya.” Dan Sang Nabi saw. berkata, “Aku yang mengumpulkan kayu bakar.”

***

 

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.[28]

Malaikat mencatat tidak hanya apa yang engkau ucapkan dengan lisan di bibirmu terhadap orang-orang.

Melainkan juga mencatat apa yang engkau ucapkan pada bagian-bagian yang terhubung padanya.

Kata-kata yang baik di lembar kebaikan.

Kata-kata yang buruk di lembar keburukan.

Semua yang tercatat di lembaran itu akan terus ada sampai selepas kematianmu.

Jika di lembaran itu engkau tidak sampai memiliki catatan sedekah yang akan terus mengalir manfaatnya

Maka paling tidak, jangan sampai engkau meninggalkan catatan keburukan yang akan terus mengalir akibat buruknya.

***

 

Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.[29]

Banyak problematika dialamai manusia yang membuat mereka mengira tidak ada solusinya.

Lalu muncul pemecahan masalah dari Allah Yang Mahasuci.

Siapa yang meyakini bahwa Siti Hajar yang terus berlari-lari di antara Shafâ dan Marwah untuk mencari seteguk air sementara air zamzam akan memancar di antara kedua kaki puteranya?

Air untuk diminum tidak hanya oleh mereka berdua, tetapi bahkan untuk diminum oleh umat manusia sampi hari kiamat.

Demikian Allah mengganti satu keadaan ke keadaan lainnya sekedipan mata.

Derita tidak akan selamanya, demikian kata Ibn al-Qayyim.

Kita semua pernah mengalami saat-saat berat yang membuat kita mengira itu akhir dari segalanya.

Tetapi saat ini, semua derita itu tinggal kenangan.

Jangan berputus asa. Percayalah kepada Tuhanmu. Karena sesungguhnya ibadah terbesar Itu menanti solusi.

***

 

Ketika Yûsuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.[30]

Renungkanlah baik-baik: kepada ayahnya.

Kenalilah di mana hendak meletakkan rahasiamu.

Tidak semua manusia bisa dipercaya menyimpan rahasia.

Tidak semua tempat layak untuk menyimpan rahasia.

Bergaullah dengan orang lain sekadarnya (jangan dengan keseluruhan dirimu).

Sisakan sesuatu dari dirimu untukmu sendiri.

***

 

Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.[31]

 

Di hadapan Zakariyya a.s., semua asbâb[32] untuk mendapatkan anak sudah pupus, padahal dia sangat ingin mendapatkan seorang anak. Semua pintu telah terkunci. Tulangnya sudah lemah, kepalanya sudah penuh uban, sementara isterinya mandul.

Bagaimana bisa ia mendapatkan anak, sementara semua batas ini sudah menyatu purna baginya.

Tetapi Zakariyya a.s. tahu bahwa Allah Mahakuasa.

Setelah melepaskan hatinya dari keterikatan kepada asbâb, setelah melihat bahwa semua asbâb sama sekali tidak akan menjadi penghalang bagi kuasa Allah Ta‘âlâ, setelah Zakariyyâ mengikatkan hatinya kepada Tuhan Yang Mahaesa, maka datanglah panggilan yang amat indah:

Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahyâ…[33]

Barangsiapa berinteraksi dengan Allah dengan sepenuh keyakinan, Allah akan menundukkan baginya mu‘jizât.

***

 

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.[34]

Ayat tersebut tentang memberi kelapangan di dalam majlis-majlis.

Tetapi maknanya lebih umum dan lebih luas dari arti itu.

Setiap orang yang memberi kelapangan kepada orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan memberinya kelapangan.

Setiap orang yang telah menghibur orang yang berduka, Allah akan memberinya penghiburan.

Setiap orang yang membahagiakan hati, Allah akan membahagiakan hatinya.

Setiap orang yang telah meringannkan derita orang lain, maka Allah akan meringankan deritanya.

Setiap orang telah mengusap airmata orang lain, Allah akan mengusap airmatanya.

Allah Mahamulia dan Maha memenuhi, tidak siapa pun lebih mulia dan lebih mampu memenuhi hajat hamba-Nya.

Perilaku yang baik akan mencegah kemunculan keburukan.

***

 

Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.[35]

Demikianlah, dirimu, sendiri.

Tanpa harta yang telah engkau kumpulkan.

Tanpa jabatan tinggi yang telah dengan sibuk engkau usahakan.

Tanpa keluarga besar yang biasanya menjadi pelindungmu.

Hanya engkau dan amal-amalmu, sungguh.

Ketika Sultan Sulaimân al-Qânûnî berbaring di ranjang kematian, dia berkata kepada orang-orang di sekelilingnya:

Jika aku mati, keluarkan kedua tanganku dari peti, agar orang-orang tahu bahwa bahkan seorang raja pun telah keluar dari dunia dengan tangan hampa (tidak membawa harta benda).

Tidak masalah seseorang beramal untuk dunianya.

Tetapi tanpa harus melupakan akhiratnya.

Tidak masalah seseorang membangun rumahnya dengan indah nan megah.

Tetapi tanpa harus melupakan kuburannya.

***

 

Amat sedikitlah kamu bersyukur.[36]

Ada seorang lelaki shalih rambutnya rontok, badannya penuh kusta, matanya buta, kedua kaki dan tangannya lumpuh.

Dia masih berucap: alhamdulillâh, segala puji bagi Allah yang telah menghindarkan aku dari balâ yang menimpa kebanyakan makhluk-Nya.

Seseorang melintas di hadapannya dan berkata, “Hai kau buta, engkau berpenyakit kusta, botak dan lumpuh. Lalu Allah telah menghindarkanmu dari penyakit apa?!”

Dia menjawab, “Berhati-hatilah, wahai fulan. Allah telah memberiku lisan yang senantiasa berdzikir, hati yang bersyukur, tubuh yang mampu bersabar atas cobaan. O betapa kasihan orang yang meyakini bahwa hanya harta benda nikmat Allah yang layak disyukuri, seraya melupa bahwa sepasang mata yang dengannya dia melihat, meski di dunia ini buta, dan kedua tangan yang dengannya dia mengambil dan memberi, meski di dunia dia lumpuh, dan kedua kaki yang dengannya dia berjalan, meski di dunia ini sama sekali tidak bisa melangkah.”

Maka, wahai Rabb, bagi-Mu segala puji.

***

 

Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat.[37]

Keadaanmu akan berubah dari satu keadaan ke keadaan lainnya.

Setelah sempit pasti ada kelapangan.

Setelah sakit pasti ada sehat.

Setelah sedih pasti ada gembira.

Setelah perpisahan pasti ada pertemuan.

Dunia ini tidak tetap dalam satu keadaan.

Di dunia ini, keadaan manusia berubah-ubah antara fakir dan kaya, sehat dan sakit, sempit dan lapang, terpisah dan bertemu.

Yang berbahagia adalah orang yang senantiasa bersama Allah dalam setiap keadaan.

***

 

Dia berkata: Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!…[38]

Yang dirawat di rumah Nabi, ditenggelamkan dengan topan.

Yang dirawat di rumah Fir‘aun, bisa membelah laut dengan tongkatnya.

Yang terpenting bukan di mana engkau hidup, tetapi bagaimana engkau hidup.

Yang terpenting bukan permualaan-permulannya, tetapi akhirnya.

***

 

Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.[39]

Yang terpenting bukan di mana engkau berada, tetapi bagaimana engkau mengada!

Logam asli tidak akan berubah oleh berlalunya hari-hari.

Banyaknya harta benda, tingginya jabatan dan strata pendidikan hanya akan membuatnya lebih tawaduk.

Yang hina tetap hina, entah dia tukang semir sepatu atau seorang menteri.

Ketika Yûsuf a.s. berada di dalam penjara, mereka berkata kepadanya, “Kami memandang kamu termasuk orang-orang yang baik.”

Saat Yûsuf a.s. menduduki singgasana kerajaan, mereka juga berkata kepadanya, “Kami memandang kamu termasuk orang-orang yang baik.”

Yang mulia tetaplah yang mulia, di mana pun dia berada.

***

 

Kemudian isterinya datang memekik lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: “(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul”.[40]

Ini Sarah. Malaikat telah memberinya kabar gembira bahwa dia akan melahirkan Ishâq!

Dia menampar-nampar wajahnya sendiri karena bingung.

Tua, mandul!

Bahkan perempuan yang di saat mudanya bisa melahirkan, tidak lagi bisa melahirkan di masa tuanya.

Lalu bagaimana dengan ia yang tidak pernah melahirkan di masa mudanya?!

Mungkin saat ini engkau akan melihat kenyataan dan keadaan dirimu.

Lalu engkau berucap, “Ya Rabb, bagaimana harapan-harapanku bisa terwujud?”

Tetapi, percayalah dengan keyakinan yang purna bahwa Allah Yang Mahasuci, apabila menghendaki kebaikan untukmu, Dia akan membawakannya untukmu meski di atas punggung musuhmu.

***

 

Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki[41]

Allah memberi harta kekayaan kepada si tukang maksiat, bukan karena Allah Yang Mahasuci lemah.

Allah mencegah harta kekayaan dari orang yang taat, bukan karena Allah Yang Mahasuci fakir.

Melainkan karena dunia ini adalah ruang ujian.

Allah Yang Mahasuci memberi untuk hikmah tertentu, mencegah juga untuk hikmah tertentu.

Apa yang memang untukmu, pasti akan sampai kepadamu, meskipun seluruh alam berusaha mencegahnya darimu.

Dan apa yang bukan untukmu, engkau pasti tidak akan bisa mencapainya, meskipun engkau melibatkan bantuan seluruh alam ini agar engkau mencapainya.

Pena telah diangkat, dan al-suhuf[42] telah mengering!

***

 

Hai Yahyâ, ambillah al-Kitâb (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.[43]

Bukan kekuatan tangan dan badan.

Tetapi kekuatan hati dan akidah.

Demikian juga dirimu: ambillah alkitâb dengan kuat.

Jadilah engkau mengakar dalam imanmu, kokoh di dalam akidahmu.

Kalaupun semua orang menyimpang, kukuhlah engkau dan jangan goyah.

Kalaupun semua orang memburuk, jangan kau tinggalkan kesalihanmu.

Sesungguhnya agama ini pasti akan dibela, dengan dirimu ataupun tanpa dirimu.

Engkau sendiri yang akan merugi jika kafilah berlalu dan engkau tidak berada di dalam rombongannya.

***

 

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia[44]

Dengan harta, dunia menjadi lebih mudah.

Dengan anak-anak, dunia menjadi lebih manis.

Tetapi renungkanlah sejenak ungkapan di dalam ayat tersebut: zînah (perhiasan).

Bukan qîmah (nilai).

Manusia senilai apa yang diketahuinya, bukan senilai harta benda yang dimilikinya.

Manusia senilai apa yang ada di hatinya, bukan dengan apa yang ada di sakunya.

Dengan belas kasihnya, bukan dengan kekuasannya.

Dengan kelembutannya, bukan dengan kebengisannya.

Jangan seperti orang-orang yang iri kepada Qârun atas harta bendanya.

Ketika dia dan rumah (seluruh harta bendanya) ditelah bumi, barulah mereka tahu hakikat sebenarnya.

Engkau, kenalilah hakikat ini sejak dini.

***

 

Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu.[45]

Kelembutan-kelembutan Allah bekerja tanpa kita tahu.

Pada setiap keburukan yang menimpa kita, ada kebaikan yang akan tersingkap kemudian.

Perahu yang tampak berlubang, jika tidak dilubangi, tentu akan diambil si pembajak, dan tentu orang-orang fakir itu akan merugi kehilangan mata pencaharian mereka.

Dan anak kecil itu, jika tidak dibunuh, tentu akan sengsara dan menyengsarakan kedua orang tuanya.

Bahkan dinding itu, jika tidak diruntuhkan, tentu hak si anak yatim akan lenyap.

Yakinlah kepada Allah. Ada kalanya satu kebaikan hanya bisa datang bila didahului keburukan.

***

 

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi[46]

Dia mengatur urusan. Lalu kenapa engkau risau nan gelisah?

Bersandarlah dengan sepenuh keyakinanmu kepada Allah Yang Mahasuci.

Sakit yang menyerangmu, penyembuhannya ada pada Allah.

Hutang yang menyulitkan dan membebanimu, untuk pelunasannya ada pada Allah.

Kegelisahan yang memberatimu, pelepasannya ada pada Allah.

Kesempitan yang mengeruhkanmu, solusinya ada pada Allah.

Ketuklah senantiasa pintu-Nya!

Sesungguhnya al-karîm (yang mulia) di kalangan manusia, akan memenuhi kebutuhan sesamanya sebagai manusia. Lantas bagaimana dengan Allah Yang Maha Mulia?!

***

 

Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya).[47]

Kata al-awwâb, secara bahasa, merupakan hiperbola.

Di dalam al-Mu‘jam, al-awwâb bermakna katsîr at-taubah (banyak kembali) kepada Allah.

Dan redaksi ayat menyiratkan:

Kalau tidak banyak berbuat dosa, tentu tidak akan banyak bertobat.

Berhati-hatilah engkau, jangan sampai engkau membesar-besarkan dosamu di hadapan rahmat Allah.

Sebaliknya, engkau juga mesti berhati-hati, jangan sampai engkau menganggap kecil dosa di hadapan siksa-Nya.

Waspadalah, jangan sampai setan membuatmu malu oleh dosa-dosamu hingga engkau tidak mau kembali kepada Tuhanmu.

Karena sesunggunya tidaklah Dia menamai Diri-Nya sebagai Maha Pengampun (al-ghafûr), melainkan karena kita seringkali berbuat dosa dan Dia senantiasa memberi kita taubat.

Jika engkau berbuat dosa seribu kali setiap hari, maka kembalilah kepada Allah seribu kali!

[1] Q.S. Ibrâhîm [14]: 34.

[2] Q.S. al-Qalam [68]: 32.

[3] Q.S. al-A‘râf [7]: 21.

[4] Q.S. Âli ‘Imrân [3]: 133.

[5] Q.S. al-Anbiyâ’ [21]: 85.

[6] Q.S. al-Baqarah [2]: 45.

[7] Q.S. Maryam [19]: 7.

[8] Q.S. an-Nahl [16]: 29.

[9] Q.S. Thâhâ [20]: 111.

[10] Q.S. al-Muddatstsir [74]: 23.

[11] Q.S. al-Mâ’idah [5]: 8.

[12] Q.S. al-Qiyâmah [75]: 22-23.

[13] Q.S. At-Taubah [9]: 92.

[14] Q.S. an-Nûr [24]: 22. “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

[15] Q.S. al-shâffât [37]: 102. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrâhîm, Ibrâhîm berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.

[16] Q.S. Al-Furqân [25]: 23.

[17] Q. S. An-Nûr [24]: 31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

[18] Q.S. Al-Qashash [28]: 9. (Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari.

[19] Menjadi sebagaimana ucapannya.

[20] Q.S. al-Ankabût [29]: 63. Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).

[21] Q.S. Saba’ [34]: 13.

[22] Q.S. Al-Qalam [68]: 10-11.

[23] Q.S. al-Baqarah [2]: 34.

[24] Q.S. Luqmân [31]: 18. (Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri).

[25] Q.S. Luqmân [31]: 17. (Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah [manusia] mengerjakan yang baik dan cegahlah [mereka] dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan [oleh Allah]).

[26] Q.S. Luqmân [31]: 18.

[27] Tutupan Allah. Allah menutupi kehinaan dan keburukan hamba-Nya.

[28] Q.S. Qâf [50]: 18.

[29] Q.S. ath-Thalâq [65]: 1. (Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru).

[30] Q.S. Yûsuf [12]: 4.

[31] Q.S. Maryam [19]: 4.

[32] Asbâb, sebab-sebab alamiah hukum kausalitas.

[33] Q.S. Maryam [19]: 7.

[34] Q.S. al-Mujâdilah [58]: 11. (Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan).

[35] Q.S. Maryam [19]: 95.

[36] Q.S. al-A‘râf [7]: 10. (Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur).

[37] Q.S. al-Insyiqâq [84]: 19.

[38] Q.S. Hûd [11]: 43.

[39] Q.S. Maryam [19]: 31.

[40] Q.S. adz-Dzâriyât [51]: 29.

[41] Q.S. an-Nahl [16]: 71. (Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?)

[42] Lembar-lembar catatan ketentuan Allah.

[43] Q.S. Maryam [19]: 12. (Hai Yahyâ, ambillah al-Kitâb (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak)

[44] Q.S. al-Kahfi [18]: 46. (Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi salih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan)

[45] Q.S. an-Nûr [24]: 11. (Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar)

[46] Q.S. as-Sajdah [32]: 5. (Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu).

[47] Q.S. Qâf [50]: 32.

Related posts

Ramadan Keren Bambang Q-Anees

admin

Leave a Comment