nun
Filsafat

Bencana dan Takdir

“Kita ini hidup di tanah berkah tapi serasa di neraka; neraka yang penuh berkah!” Itulah kira-kira tema obrolan warung kopi di sekitar pasar Kranji. Warung kopi kecil itu tentunya tidak sekelas starbuck, kursinya bukan sofa, tapi kayu panjang yang ditopang balok kayu sederhana, walaupun terlihat kumuh tapi tetap bisa menikmati secangkir kopi.  Sejumlah pertanyaan, pernyataan dan argumentasi bertebaran di seantero warung kopi. Kalaupun kata-kata bisa terlihat, kayak-kayaknya sudah sesak padat ruangan itu. Entah apa yang menjadikan obrolan itu menarik, kita semua yang tidak saling kenal satu sama lain, berebut kata untuk menghangatkan suasana. Tidak dijadwalkan dan dibuat TORnya, awalnya mereka berkumpul cuma untuk memenuhi satu hajat, menghirup manis-pahitnya kopi setelah lelah beraktivitas.

Yang paling menarik dari obrolan itu adalah keluarnya kata takdir yang bagi sebagian orang, dianggap tali kekang yang terus memaksa orang harus menerima kenyataan hidup tanpa perlawanan.  Dalam obrolan itu, kata takdir kemudian terjalin dengan bencana hidup, mulai dari bencana beneran yang makan korban banyak atau bencana kecil-kecilan yang mereka hadapi setiap hari. Keren! Setahu saya, terkait takdir, banyak ahli-ahli bencana yang menganggap takdir sebagai penghambat dalam upaya membuat orang bisa sadar dan keluar dari situasi bencana, fatalistik. Tapi,  dalam obrolan itu, takdir tidak demikian.

Bagi mereka justru takdirlah yang membuat mereka merasa nyaman walaupun hidup dalam kondisi pas-pasan. Dalam pikir saya, lewat penyimpulan yang serampangan, justru karena takdir itu, mereka mau mengamini bahwa ada takdir lain yang menunggu untuk didatangi: berjuang memenuhi kebutuhan hidup!

“Ah, kalau tidak ada takdir, mungkin hidup bisa lebih ancur!”, kata salah seorang hadirin sambil menghirup kopinya.

“ya iyalah pak, kalau tidak bisa menerima takdir stress kalee”, yang lain menimpali.

“Jadi terima aja ya pak, berusaha sebaik mungkin takdir juga kan?”, kata ibu warung.

“Iya bu, kopi ini kurang gula juga takdir, tambah gulanya buu!”

“hahahhahahah!”

Batinku, ini obrolan takdir yang menyenangkan. Kembali ke pendapat para ahli bencana, yang menganggap takdir itu penghambat terciptanya keluwesan menghadapi bencana (resilient), dalam obrolan itu takdir justru menjadi modal menjadi luwes. Mungkin, takdir itu seperti struktur sosial. Beberapa teman yang mempelajari itu pernah mengatakan struktur sosial itu ibarat kutukan bagi manusia. Di manapun dan kapanpun, manusia selalu terjebak dalam struktur, entah menerima atau menolaknya. Katanya, belajar tentang struktur inilah yang mendorong orang mau melakukan perubahan. Karena, kalau kita tidak mengenal struktur, kita tidak bisa menjejaki apa yang sebenarnya sedang terjadi dan tidak tahu bagaimana melakukan perubahan.

Cukup menjengkelkan penjelasan itu! Tapi saya mencoba mengira-ngira maksud dari struktur itu dengan penjelasan pemikir Islam bahwa takdir itu adalah ukuran-ukuran.  Kayaknya cocok tuh! Takdir sebagai ukuran artinya bahwa segala sesuatu yang ada memiliki kadarnya masing-masing dalam hidup. Bisa dikatakan, memahami takdir bisa mendorong individu  melakukan perubahan yang berarti dalam hidupnya berdasarkan kadar atau ukurannya sendiri. Dan, orang yang tidak memahami kadarnya sendiri tentunya akan sulit untuk melakukan perubahan.  Bisa dikatakan, takdir dalam ruang yang lebih luas dapat mendorong perubahan sosial atau perubahan struktur sosial.

Bagi saya, menggunakan kata takdir dalam melakukan perubahan sosial,  rasa-rasanya terasa lebih dekat dengan kenyataan masyarakat kita. Istilah ini jauh lebih akrab di telinga masyarakat kita dan lebih personal sekaligus spiritual, khususnya bagi umat Islam.  Menurut saya, masyarakat kita telah terbiasa mempraktikkan takdir dalam kehidupan; takdir yang semakna dengan struktur yang  memiliki jaringan yang ruwet dan sebagai proses. Kita lihat misalnya, banyak masyarakat miskin, tapi adakah yang berhenti berusaha? Ada banyak bencana di sana-sini, tapi adalakah yang menyerah untuk hidup?

Masyarakat kita tahu persis bagaimana memahami takdir dalam kehidupan. Yang jadi masalah adalah orang-orang berkuasa yang bebal menginsafi bahwa di tangan mereka perubahan bisa menjadi sangat efektif. Sikap terlalu mementingkan diri sendiri dan tamak, di kebanyakan orang-orang yang berkuasa inilah yang menyeret mereka menjadi tuhan palsu dengan menjadikan takdir sebagai mainan yang bisa diperlakukan seenaknya.

Saya melihat, banyak intelektual kita yang hadir mencermati hal ini. Tapi, tidak memahami takdir sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat kita. Kebanyakan lebih kenal dengan ‘struktur’ dengan basis rasionalitasnya yang canggih. Basis rasionalitas inilah yang menyedot habis mata air spiritualitas. Padahal, manusia bukan saja makluk sosialekonomi, budaya tapi juga spiritual.  Dan, takdir menghimpunnya menjadi sesuatu yang sulit untuk dipahami tapi selalu dipraktikkan.

“Bu, pisang gorengnya masih ada?”

“Habis pak!”

“Wah, takdir nih, saya berangkat dulu ya! Mari semua!”

* * *

Obrolan santai tentang bencana dan takdir mengingatkan saya betapa pentingnya masyarakat mengenali bencana dengan baik dan berbagai konsekwensi yang dilahirkannya berdasarkan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Lembaga-lembaga Pendidikan baiknya tidak saja mengajarkan apa dan bagaimana cara menghadapi bencana, tetapi juga berperan menghidupkan nilai-nilai yang sering kali dianggap tidak tepat dalam perspektif modernnya. Yuk, bangun kesiapsiagaan bencana di sekolah/madrasah!

Related posts

Bencana

admin

Leave a Comment