nun
Pendidikan

Perencanaan, pentingkah?

Dalam sebuah lembaga pendidikan perencanaan bukanlah hal yang asing; mulai dari perencanaan jangka panjang, perencanaan jangka menengah atau perencanaan strategis, perencanaan tahunan, perencanaan semester, perencanaan kegiatan sampai perencanaan pembelajaran. Persoalannya, perencanaan-perencanaan tersebut, sering kali dianggap sebagai syarat administratif saja sehingga dalam praktiknya perencanaan kehilangan ruhnya dan dikerjakan jika memang ditanyakan pengawas sekolah atau untuk pemenuhan akreditasi sekolah. Padahal, dalam kertas perencanaan biasanya tersimpan sejumlah catatan penting seperti kondisi aktual, tata kerja, harapan dan cita-cita. Dan, dengan kertas itu pula, berbagai kegiatan yang sudah direncanakan dapat dimonitoring dan dievaluasi baik prosesnya maupun substansinya. Pertanyaannya, sudah sepenting itukah kita melihat perencanaan?

Dari pengalaman saya belajar dan berdiskusi di sejumlah lembaga pendidikan, sudah banyak yang menganggap bahwa perencanaan itu penting. Namun, persoalannya, belum banyak yang memahami apa dan bagaimana seharusnya membuat perencanaan yang baik walaupun sejumlah istilah dalam perencaan itu sendiri bukanlah hal asing. Sebagian lainnya masih menganggap bahwa perencanaan itu bukanlah hal yang penting. Alasan yang dikemukan terkait hal tersebut salah satunya adalah bahwa perencanaan yang baik membutuhkan waktu dan dana yang relatif banyak sehingga cukuplah satu orang yang dianggap paham perencaan yang mengerjakan hal itu. Yang penting, ketika pengawas sekolah datang ada dokumen tentang perencanaan. Dan, selesailah perkara…

Menurut hemat saya, ketidakinsyafan akan pentingnya perencanaan di sekolah, dapat dikatakan, bahwa sekolah bergerak tanpa arah dan tujuan yang jelas. Dan, jikapun yang terjadi seperti contoh kasus kedua di atas, maka yang terjadi, biasanya, adalah ketidakpahaman para pelaku utama pendidikan—guru dan staf—dalam menjalankan tugas. Ekses dari itu semua adalah bertumpuknya informasi atau pengetahuan tentang organisasi di beberapa orang saja. Dan, yang lebih memperihatinkan adalah ketidakjelasan pembagian tugas yang berujung pada beban tugas yang berlebih pada sebagian orang sedangkan yang lainnya dapat melenggang tanpa beban. Hal ini, tentunya, tidak baik dalam proses pendidikan itu sendiri karena akan berujung pada pola relasi dan interaksi yang tidak sehat. Padahal yang diharapkan, semua orang menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Nobody hero because everybody is hero.

Yang perlu digarisbawahi dari itu semua, ketidakseriusan dalam membuat perencanaan akan berimplikasi pada tata kerja staf dan guru dalam menjalankan tugas. Dan, hasil akhirnya pun dapat dengan mudah diprediksi, kerja yang asal-asalan atau hanya sekedar memenuhi tugas, minim semangat, minim harapan dan yang sangat memperihatinkan adalah munculnya kekesalan kepada rekan kerja karena yang satu memiliki tugas yang berat sedang yang lainnya santai melenggang.  Ujung-ujungnya, hal ini akan berdampak buruk pada pelayanan kepada pengguna akhir—end user—dari proses pendidikan itu sendiri, murid dan orang tua/wali murid.

Dalam konteks ini dapat dikatakan, semakin baik perencanaan yang dilakukan oleh sebuah lembaga pendidikan, maka hasil yang akan dicapai akan baik juga. Hal tersebut, akan menambah kepercayadirian pelaksana proses pendidikan dan juga akan menimbulkan kepercayaan dari murid dan orang tua/wali murid juga masyarakat luas. Inilah salah satu poin penting dari perencanaan. Yaitu, agar mendapatkan kepercayaan dari sebanyak mungkin orang yang terlibat dalam proses pendidikan, baik internal maupun eksternal.

Kendatipun demikian, perlu juga dipahami bahwa dalam pelaksanaan perencanaan itu sendiri sering terjadi hasil yang tidak dapat diprediksi—unintended consequences. Hasil yang tidak dapat diprediksi tersebut dapat berupa hasil positif yang melampaui target ataupun sebaliknya yang justru dapat mendegradasi harapan. Oleh sebab itu, dalam perencanaan penting melibatkan sebanyak mungkin orang—guru dan staf atau bahkan orang tua—agar  perencanaan yang dibuat lebih realistis berdasarkan kondisi aktual yang dihadapi; tidak berlebihan; dan dapat dilaksanakan dengan baik.

Atas dasar itu, maka beberapa catatan penting yang dapat dikemukan terkait dengan perencanaan adalah sebagai berikut: pertama, perencanaan mesti melibatkan banyak orang agar masing-masing orang yang terlibat dalam pelaksanaan proses pendidikan dapat saling belajar dan memahami arah serta tujuan dari proses kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Dalam hal ini, partisipasi menjadi kata kunci yang mesti dikedepankan. Kedua, karena partisipasi akan mengikutsertakan banyak orang maka penting menghadirkan orang yang mampu memfasilitasi forum agar sejumlah diskusi terkait perencanaan dapat berjalan dengan baik. Dalam hal ini, orang yang memahami teknik-teknik fasilitasi perencanaan, monitoring dan evaluasi penting dihadirkan. Hal ini, bisa diambil dari kalangan internal ataupun eksternal. Ketiga, agar proses perencanaan dapat menghasilkan dokumen resmi yang dijadikan rujukan bersama, penting untuk membuat catatan proses perencanaan sehingga masing-masing orang melihat lebih dekat persoalan dan solusinya serta harapan dan praktiknya di lapangan.

Terlepas dari itu semua, saya ingin mengatakan bahwa perencanaan itu penting. Dulu sewaktu menimba ilmu di pesantren saya diajarkan bahwa perencanaan itu diibaratkan dengan niat. Makna dari niat itu sendiri adalah meneguhkan hati untuk mencapai tujuan yang dibarengi dengan mengerjakannya, qashdu syaiin muqtaranan bi fi’lihi. Dalam praktik keislaman, segala hal yang terkait dengan niat melakukan ibadah sudah diatur tata cara dan petunjuk pelaksanaannya secara tertulis kendati terdapat perbedaan pendapat ulama dalam pelaksanaannya, sehingga umat Islam tinggal merujuk pada salah satu pendapat ulama tersebut atau mempelajarinya sendiri dari al-Quran dan sunnah.

Sedangkan dalam praktik pendidikan, kendati pemerintah sudah memiliki petunjuk pelaksanaan pendidikan, dalam praktiknya membutuhkan sejumlah penyesuaian karena masing-masing lembaga pendidikan memiliki persoalan yang berbeda satu sama lain. Dan, proses penyesuaian tersebut mestilah ditulis agar menjadi rujukan pelaksana pendidikan dalam menjalankan proses pendidikan itu sendiri. Dan, yang terpenting dari itu semua adalah bagaimana melibatkan hati dalam perencanaan sebagaimana dalam niat.

Terkait hal tersebut, mari berbagi…

Wallahu A’lam bi-l-shawwab

Related posts

“Kang Adi, budaya sekolah itu apa?”

admin

Menemukan Kembali [banyak] Cinta dalam Dunia Pendidikan?

admin

Situasi VUCA, apa yang harus dilakukan lembaga pendidikan?

admin

Leave a Comment